Zombie

Jasad yang mati, tidak lagi membutuhkan makanan. Begitu pun hati, ketika sudah mati, juga tidak lagi membutuhkan makanan.

Lalu kita merasa baik-baik saja ketika jarang mengingat Allah (dzikr), tilawah, Qiyamul Lail, Dhuha, dan kawan-kawannya?

Padahal itu semua makanan hati, asupan nutrisi untuk hati yang tetap sehat.

Jangan-jangan kita selama ini zombie?

NB: Terinspirasi dari nasihat gurunda, yang belakangan ini sering beliau ucapkan kepada kami.

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

IMO, kerja keras dan kerja cerdas itu bukan dua hal yang perlu dibenturkan.

Kerja keras itu syarat minimum. Kalau kita bisa menambahkan dengan kerja cerdas, nilainya menjadi lebih baik.

Prinsip dasarnya: kerja cerdas, tidak boleh menghilangkan kerja keras.

Perkara seberapa keras definisi “kerja keras”-nya, disesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing. Kita sinonimkan saja kata “keras” itu dengan “maksimal”, gimana?

Yang jelas, sebagai orang yang (mumpung) masih muda, saya masih memiliki keyakinan bahwa hasil yang baik, tidak ujug-ujug diperoleh dengan cara yang santai dan mudah.

Kalau kita merasa hasil yang saat ini sudah baik dengan cara yang effortless, percayalah, sebenarnya kita masih bisa menyajikan hasil yang jauh lebih baik dari itu.

Naikin standarnya. Jangan biarin standar kita, lebih rendah dari kemampuan kita yang sebenarnya jauh lebih tinggi.

Stabilitas itu milik orang-orang tua. Milik kita nanti di masa tua.

Karena sekarang kita masih muda, belilah tiket untuk menaiki wahana yang menakutkan dan mendebarkan. Memaksa kita untuk berfikir keras sampai pusing. Agar kita terlatih, agar kita menjadi entitas yang diperhitungkan di dunia, juga di akhirat kelak.

Selamat bekerja dengan cerdas dan keras. Jangan lupa juga untuk kerja ikhlas.

Push your limit!

Salam,

Pemuda Depok.

Tanam, Pupuk, Rawat

Kalau sudah yakin bahwa Allah Maha Menepati Janji, insyaAllah pikiran jadi lebih jernih, jiwa lebih tenang, ikhtiar-ikhtiar maksimal pun terasa ringan dikerjakan.

Sudah kubilang, Allah yang akan menyelesaikan, kita hanya berikhtiar. Sabar menjadi kunci.

Tanam, pupuk dan rawat sebuah keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Dan Allah sudah menepati janji-Nya, seperti biasa 🙂

Alhamdulillah.

Random #24

Malam ini saya sedang berhitung, dalam waktu kurang dari 12 jam, ternyata sudah 120-an kilometer jarak yang saya tempuh, di atas sepeda motor.

Dalam waktu kurang dari 12 jam pula, ada belasan hikmah, kejadian dan pelajaran keren.

Hmm… menarik. Alhamdulillah.

Tidak menyangka kalau weekend saya kali ini, cukup berbeda dari weekend saya yang biasanya (ciegitu). Qadarullah, banyak hitung-hitungan yang meleset, rutinitas yang mendadak menjadi tidak stabil, dan realisasi yang ndak sesuai dengan rencana.

Tapi, itu bukan masalah.

Kalau bahasanya Mas Yuwono dalam perbincangan ringan kami disela-sela kemacetan Jakarta tempo hari, “Saya selalu percaya, segala sesuatu yang terjadi pada saya, yang Allah takdirkan untuk saya, adalah skenario terbaik”.

Tanpa ragu, saya setuju 98.573.945.834 (terbilang: sembilan puluh delapan miliyar, lima ratus tujuh puluh tiga juta, sembilan ratus empat puluh lima ribu, delapan ratus tiga puluh empat) persen.

Ya, ketidaksesuaian rencana dengan realita bukanlah sebuah masalah. Selama tidak ada pihak yang dirugikan. Emm bahkan, ketika kita merugikan orang lain pun, IMO, itu tetap takdir baik, dan menjadi baik untuk kita insyaAllah, selama kita bisa belajar dari sana, mampu mengambil hikmah, dan tentunya bertanggung jawab.

Menjadi masalah, ketika saya bersikeras ingin mengulang waktu, berandai “jika saja rencananya begini, kan bisa begitu”. Seakan-akan lupa, bahwa yang memiliki kendali terhadap waktu & takdir, bukanlah makhluk.

Bepergian sendiri (dengan tujuan jelas dari tempat A ke tempat B) adalah salah satu “terapi” yang saya gemari. Yang kedua, tidur.

Kedua terapi tersebut, sejauh ini terbukti efektif menjadi katalis munculnya berbagai calon solusi untuk persoalan-persoalan.

Percayalah, tidur cukup dan efektif itu penting. Perlu digaris bawahi: tidur cukup dan efektif. Kalau ditanya berapa jam lamanya, setiap orang beda-beda. Ada yang 3 jam cukup, ada yang 5 jam, ada yang 7 jam. Kalau saya sendiri, masih sekitar 5 jam. Biasa dipecah jadi 2 bagian tidur. Inginnya sih 1 jam aja udah cukup, tapi kayaknya sulit. wkwk.

Jadi ngomongin tidur. Lanjut.

Dalam perjalanan Tangerang – Depok barusan, ditengah-tengah keseruan membuka “map” baru, eksplor jalan baru–karena baru pertama kali ke Depok lewat tengah Jakarta, banyak sekali yang pop-up di kepala saya yang minta dipikirin. Salah satu yang menarik adalah perkataan Ayah kemarin.

“Jangan belajar terus. Udah waktunya ngelakuin yang beneran.”

Ayah mengira, kalau selama ini saya bilang “belajar”, artinya main-main wkwk. Tapi lagi-lagi bukan itu yang menjadi persoalan. Konteks dari kalimat Ayah, adalah “Sampai kapan mode “Diverge” ini?” Saya jadi berpikir ulang, kalau mode diverge ini selesai di umur 27 terlalu lama, untuk kemudian berubah jadi mode konvergen. Baiklah, awal tahun nanti mungkin akan ada pencerahan. (Ngomong apa sih!)

Pernyataan Ayah yang simple itu ternyata mengambil posisi Top-3 “Topik yang paling minta diperhatiin” di pekan ini sampai pekan depan keknya, menyingkirkan topik “tabungan yang semakin tergerus” (karena Allah yang akan mencukupkan, selama usaha & doanya maksimal).

Ketika orang-orang sibuk Jakarta sedang asik dengan keluarganya masing-masing, saya yang diuntungkan. Jakarta malam hari tadi, bernuansa syahdu. Kota yang layak dinikmati keindahannya.

Ngomong-ngomong, realisasi boleh saja tidak sesuai dengan rencana. Tapi target, tetaplah target. Masih ada waktu. Bertanggung jawablah, Bung wkwk.

Oiya, mohon dimaafkan kalau jadwal Serial Khowatir Qur’aniyah dua hari ini jadi begitu. Tidak menjadi lebih baik juga kalau saya jelaskan sebabnya, tapi lain waktu saya perlu menghitung sampai kemungkinan paling sangat buruk sepertinya. Saya tidak yakin juga kalau ada yang peduli, tapi yang jelas, ini sudah menciderai komitmen pribadi. Saya yang cidera. *halah drama*

Depok, 00.01 AM

Relax

Dalam perjalanan, di atas motor. Dua orang sahabat memulai percakapan random.

W: Dude, gw penasaran. Kira-kira Allah mau ngasih hadiah apa ya? Gw curiga, hadiahnya bakal canggih banget nih. Soalnya ujiannya muwantep dan berderet wkwk. Istri solihah mungkin yak? Wkwkwk. Aamiin. *kepedean*

A: Hahahaha. Aamiin.

W: Abis ujian kecelakaan waktu itu, lu di kasih hadiah apa sama Allah, dude? Kan luar biasa berat ujian waktu itu menurut gw. Lu hampir aja lewat. Hiks.

A: Perasaan bersyukur, Bro.

W: Hmm.. menarik. Tolong dielaborasi lagi.

A: Gw jadi lebih bersyukur aja sekarang. Saat ketemu keluarga, main sama anak, ketemu istri. Yang itu semua, dulu perasaannya ga kaya sekarang ini. Dan, gw jadi ga gampang marah, lebih sabar gitu deh.

W: Perasaan syukur dan sabar ya. Bener juga sih. Itu life skill tingkat tinggi tuh. Super penting. Asik dong yaa.

A: Yoi.

W: Hadiahnya intangible ya. Duh, gw terlalu matrealistis mikirnya. *istighfar*

Bro-tips saat dilanda ujian:

  • Tetap bernafas. Relax.
  • Minta ampun sama Allah.
  • Keep husnudzon. Mungkin mau di kasih “hadiah”; dipersiapkan untuk amanah/ujian yang lebih besar; naik kelas.
  • Cek ke diri sendiri: makin deket, atau malah jadi jauh dari Allah? Kalo jadi jauh, mungkin “teguran”, bukan ujian. *Istighfar
  • Cek ke diri sendiri: ngadunya ke siapa? Allah? Sosmed? Temen?
  • Ujian sifatnya sementara. Datang dan pergi sesuka Allah 🙂
  • Jangan “senggol bacok” ke orang lain, terutama orang-orang terdekat. Mereka ndak ada salah. Usahakan dipakai “topeng” cerianya 😀

Tangerang, 11.02pm