Yawme: Penyeru Kebaikan “Zaman Now”

tumblr_inline_oz6jx3719V1rq134c_500
Yawme Android: bit.ly/DownloadYawme

Sekitar empat bulan terakhir saya bersama beberapa rekan lainnya, diamanahkan untuk mengembangkan sebuah produk teknologi untuk pasar Muslim. Sebut saja Yawme namanya.

Yawme adalah pengejawantahan dari mimpi besar kami bersama, yang juga menjadi pilihan atas jalan hidup dari sekian banyak pilihan yang tersedia, yaitu seorang penyeru kebaikan (ya, hanya penyeru). Seorang yang berusaha semaksimal mungkin membumikan nilai-nilai kebaikan agar bisa dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia, tanpa terkecuali.

Yawme hadir dengan sebuah kepercayaan bahwa “menjadi lebih baik adalah hak setiap manusia”; Yawme bergerak dengan semangat ingin mengajak siapapun untuk #JadiLebihBaik dari hari ke hari.

Kami berkomitmen ingin menghilangkan semua batasan dan faktor penghalang yang membuat seseorang untuk bisa #JadiLebihBaik. Rasa bosan, jenuh, tidak bersemangat, tidak ada lingkungan yang mendukung, tidak ada teman, tidak tahu bagaimana caranya, dan lain-lain. Semuanya!

Jika ada seseorang yang mengetahui faktor-faktor khusus penyebab seseorang terhambat untuk #JadiLebihBaik, tolong beritahu kami ya. Kami ingin sekali temui dan berguru dengan langsung kepada beliau.

Si Bayi Yawme

Yawme saat ini masih berumur dua bulan lebih sekian hari. Jika hari ini kamu mengunduhnya di Playstore (bit.ly/DownloadYawme), lalu mencobanya, kamu mungkin akan melihat banyak kekurangan sana-sini.

Kamu mungkin akan bergumam, rasanya Yawme masih jauh untuk membantumu untuk #JadiLebihBaik, seperti  apa yang saya ceritakan di atas.

Sesekali mungkin kamu senang karena bisa menemukan teman-teman baru di dalam Yawme. Diingatkan untuk mengerjakan serangkai aktivitas kebaikan, dan bisa mengevaluasi aktivitas kebaikanmu di hari-hari sebelumnya.

Tapi, kamu mungkin juga akan merasa bosan setelah beberapa hari memakainya. Kamu mungkin akan protes dalam hati: kenapa ga bisa begini ya? kenapa ga bisa begitu ya? kenapa ga bikin fitur ini ya? wah kenapa error ya? Kalau ada fitur ini pasti gw akan make. Kalo bisa begini pasti gw semakin semangat.

Ya! Sebenarnya itulah yang kami harapkan: mendengar langsung dengan saksama masukan, kritik dan saran dari para pengguna, yang saat ini  sudah mencapai 3.600-an. Alhamduilillah.

Untuk memberi masukan, kritik dan saran, kamu bisa menghubungi saya secara langsung, meninggalkan komentar di tulisan ini,  mengirimkan email ke hello@meetyawme.com, bahkan juga bisa menemui tim Yawme ke kantor BADR, sambil menjalin silaturrahim 🙂

Saya seperti bisa melihat dengan jelas, suatu hari nanti Yawme tidak akan jauh dari lingkaran aktivitas harianmu. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi. Yawme akan aktif untuk selalu mengingatkan kamu untuk #JadiLebihBaik dan mengajakmu untuk selalu peduli dengan kebaikan-kebaikan kolektif.

Perjalanan masih panjang…

Yawme bukan saja milik BADR Interactive, bukan juga milik tim Yawme, apalagi milik saya pribadi. Yawme adalah milik siapapun yang memiliki visi dan semangat yang sama dengan visi Yawme itu sendiri: mengajak siapapun untuk #JadiLebihBaik.

Kami percaya, generasi yang lebih baik dan ideal, dibentuk oleh individu-individu yang ideal pula. Yang berkomitmen untuk #JadiLebihBaik dari hari ke hari; yang sudah menang dari masalah-masalah internal dirinya sendiri; juga yang memiliki kedekatan dengan Pencipta-Nya.

Usaha-usaha sekecil apapun yang membantu terwujudnya hal itu semua, semoga dinilai Allah sebagai pemberat timbangan amal kebaikan kita kelak. Aamiin.

Jadi, sudah siap untuk #JadiLebihBaik mulai hari ini?

Advertisements

Pesan Untuk Para Lelaki

Kekhawatiran paling mendasar seorang laki-laki dewasa adalah tentang persoalan integritas. 

Karena integritas adalah modal utama seorang pemimpin.

Serendah-rendahnya jabatan atau profesi seorang laki-laki dewasa di tempat ia bekerja, sesampainya di rumah, ia langsung berada di posisi eksekutif dalam sebuah organisasi.

Ini bukan untuk keren-kerenan, tapi memang sudah begitu mandat yang ia terima. Arah organisasi, ada di tangannya. Mau di bawa kemana semua ini? Mau menyiapkan jawaban yang seperti apa saat dimintai pertanggung jawaban nanti?

Tanpa integritas, seseorang akan sulit mendapatkan kepercayaan (trust). Sulit memberikan pengaruh. Sulit di dengar. Sulit mendapatkan respek. Karena ia pandai berbicara hal-hal yang baik, di satu sisi tindakannya berseberangan dari apa yang ia sering katakan.

Coba bayangkan, bagaimana caranya kita mudah menaruh respek dan mau mengikuti saran-sarannya pada seseorang yang selalu menganjurkan kita untuk shalat 5 waktu di masjid tepat waktu, padahal dirinya jarang shalat di masjid?

Bukan hanya saran soal shalat 5 waktu di masjid tepat waktu yang sulit kita dengar, tapi saran-sarannya yang lainnya juga mungkin kita akan ragu menerimanya.

Contoh lain, coba bayangkan, bagaimana caranya kita mudah menaruh kepercayaan pada teman kita (misalnya) yang rajin membuat janji ketemuan, padahal dirinya sering datang telat?

Dan lebih parahnya, kita ikutan datang telat dari jam yang sudah disepakati, karena tau teman kita juga akan telat. Wkwk.

Kalau sudah begitu, lupakan soal mimpi-mimpi besar ingin menyejahterakan Indonesia, menjadikan Indonesia Emas 2030, atau menjadi bagian dari kejayaan Islam. 

Integritas dibangun di atas komitmen, nilai-nilai yang dipegang, konsistensi dan kredibilitas dalam menjalankannya.

Sulit ya.

Bahkan tulisan ini, mungkin akan sulit diterima, jika misalnya kamu tahu bahwa saya tidak berintegritas.

Oleh karenanya, diperlukan perjalanan panjang dan latihan keras yang berkelanjutan, agar otot integritas semakin kuat.

Brotip: biasakan berusaha maksimal untuk membuktikan apa yang sudah dijanjikan, melakukan apa yang sudah diucap, jujur kepada diri sendiri dan bertanggun jawablah dalam segala hal, baik hal-hal kecil seperti janjian buat main bareng temen, atau hal-hal besar seperti menjalankan misi perusahaan.

Mari bangun kualitas diri yang lebih baik, lebih kokoh dan berintegritas.

Jika elemen masyarakatnya sudah berkualitas, insyaAllah akan muncul organisasi-organisasi baru dan dilanjutkan dengan peradaban yang berkualitas pula. Aamiin.

Note: Ini pesan pengingat untuk diri saya sendiri (yang masih jauh dari memiliki integritas hakiki), dan untuk laki-laki manapun yang sejatinya adalah para pemimpin organisasi.

Depok, 10 Agustus ‘17, 12.35AM

Kekuatan Magis

Mungkin Ibu Dosen yang dulu sering membagikan foto buku-buku koleksinya itu tidak sadar, bahwa ada orang yang diam-diam mencatat judul-judulnya.

Lalu membelinya ke toko buku, membacanya, mendapatkan perspektif baru dalam memandang kehidupan, sampai akhirnya hidupnya benar-benar berubah menjadi lebih baik. Alhamdulillah.

Mungkin Ibu itu tidak memiliki niatan secanggih itu: membagikan foto buku, agar ada orang lain yang tergugah membaca, lalu hidupnya berubah. Seperti yang saya alami.

Mungkin, niatnya memang sesederhana ingin membagikannya saja ke Facebook. Yaa, barangkali bermanfaat lah.

Entah. Tapi yang jelas saya ingin berterima kasih banyak kepada beliau.

Bagiku, di sanalah kekuatan magis dari sebuah kebaikan.

Bisa jadi, kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan, membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Tanpa sepengetahuan kita.

Kebaikan kecil itu, jangan-jangan malah bernilai besar di langit. Yang menyelematkan.

Apalagi kebaikan-kebaikan besar yang direncanakan dengan baik dan dijalankan secara konkrit dan professional?

Tetaplah berbuat baik, dalam sepi atau ramai, terlihat atau tersembunyi, sedikit atau banyak, kecil atau besar.

Tetaplah berbuat baik.

Karena kita tidak akan pernah tau, perbuatan baik mana yang akan menjadi jalan terketuknya hati seseorang untuk lebih mengenal dan dekat dengan Rabb-nya; perbuatan baik mana yang akan membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Seperti Ibu Dosen, sesederhana hanya membagikan foto koleksi buku-bukunya, yang membuat hidup mahasiswanya berubah. Tentu atas izin Allah.

Umur kita terbatas, tetapi manfaat dari kebaikan kita bisa melampauinya.

Ayo rencanakan proyek kebaikanmu. Buat kenang-kenangan yang bermanfaat. Buat legacy. Mulai hari ini 🙂

Depok, 11.49 PM

Zombie

Jasad yang mati, tidak lagi membutuhkan makanan. Begitu pun hati, ketika sudah mati, juga tidak lagi membutuhkan makanan.

Lalu kita merasa baik-baik saja ketika jarang mengingat Allah (dzikr), tilawah, Qiyamul Lail, Dhuha, dan kawan-kawannya?

Padahal itu semua makanan hati, asupan nutrisi untuk hati yang tetap sehat.

Jangan-jangan kita selama ini zombie?

NB: Terinspirasi dari nasihat gurunda, yang belakangan ini sering beliau ucapkan kepada kami.