Ujian Fokus

sssss

Banyak yg memilih masuk ke sebuah “goa” untuk menyelesaikan masalahnya. Sebagian lagi memilih untuk bercerita. Tapi kebanyakan kaum pria lebih memilih yang pertama. Butuh waktu dan tempat sunyi untuk berpikir, katanya. Walaupun tidak benar-benar sunyi — karena sulit mencari “goa” disini — aku termasuk yang sudah mencoba. Tapi tidak terlalu signifikan hasilnya, ah. Mungkin karena jarak pandang yg teralalu sempit. Tembok, Meja, Lemari, Komputer, Jendela, terakhir yang kupandang gitar di ujung sana. Menyumbat inspirasi. Alasan!

Akhirnya aku pilih untuk keluar, memandang atap-atap langit. Mendung. Langkah demi langkah aku tambah, aku pandangi ulang daun-daun pohon di pekarangan gedung. Kacamataku sedikit basah karena gerimis, tapi tak kuhiraukan. Aku lanjut memandangi daun-daun yg semakin basah di pohon yang lain. Hidungku kembang-kempis, menolak untuk tidak menghirup aroma bekas hujan tadi sore. Sampai pada akhirnya membuat aku berpikir beberapa saat, “Sebenarnya apa yang Allah inginkan dari ujian hati dari seorang hamba-Nya?” sambil memandangi sandal jepitku yang hampir putus. Aku lanjutkan perjalanan, coba menebak-nebak jawabannya.

Adakah solusi yg lebih menenangkan jiwa, dari sebuah lantunan beberapa bait interaksi dengan Sang Rabb? Sang Pemegang kendali segala sesuatu, tak terkecuali hati-hati manusia yang mudah rapuh dan goyak.

Tak ada keraguan pada-Nya. Memang tak boleh. Percaya bahwa semut yang sempat kehilangan barisan pun Ia perhatikan, hingga dipertemukan kembali bersama rekan-rekan barisannya, rekan seperjuangannya. Apa lagi aku yang tak bosan mengiba petunjuk-Nya? — Kepedean kamu! —  Biar, memang harus percaya diri, lagi-lagi memang tidak boleh ada keraguan bahwa Allah Maha Mendengar dan Memberi Petunjuk.

Aku bersyukur sore tadi hujan, karena sudah baik mau memproduksi aroma yang khas. Oiya, Aku bukan kelompok Pluviophile[1]

Tiba-tiba teringat sudah 4 hari aku dzalim dengan kewajibanku. Langkah kupercepat agar segera kembali ke meja kerja. Lekas kubuat todo-list, merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja, menata buku-buku yang kurang tegak, membuat rencana beberapa hari kedepan, lalu menyalinnya ke dalam buku agenda yang beberapa hari ini hanya aku lihat dengan tatapan kosong, dan terakhir mengatur Pomodoro-timer[2].

Bismillah, mari coba kembali fokus. Fight!


[1] Pecinta hujan; seseorang yang menemukan kegembiraan dan ketenangan pikiran selama hujan.
[2] Sejenis timer berbentuk tomat yang digunakan untuk mempraktikkan salah satu teknik manajemen waktu: Pomodoro Technique

Advertisements

?

Saya ingin diskusi banyak, cari tau banyak tentang kondisi negara ini yang sebenarnya. Buat saya, media mainstream terlalu bias. Atau saya yang belum pandai mengolah informasinya?

Adakah diantara teman-teman yang memiliki kompetensi tentang ini, moderat, cukup bijaksana dan bersedia meluangkan waktunya 2-3 jam?

InsyaAllah, dengan senang hati saya bersedia traktir makan-minum sepuasnya deh 😀

dari anak negeri yang kurang ilmu, yang sejujurnya bingung harus berbuat apa untuk bangsa ini – saat ini #heleh