Prediksi usia dari wajah menggunakan Azure Machine Learning (AzureML)
Akurasi AzureML masih belum terlalu bagus :p

Btw ini bukan Tugas Akhir *ndak ada  yang nanya juga*
try yourself

Advertisements

Hari ini pulang agak malam dari kampus karena ada acara seminar kewirausahaan. Selepas ferry, saat berjalan di taman sempat berpapasan dengan pasangan (suami-istri) yang sudah sangat sepuh (usia mrk sepertinya min 70 tahunan). Sang istri nampak sudah tidak kuat untuk berjalan, ia duduk di kursi roda, sementara sang suami mendorong secara perlahan dari belakang.

Saat jalan melewati mereka, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan singkat mereka (nguping):
istri: [dengan suara tuanya yang rintih-bergetar] “… but what about home?”
suami: “it doesn’t matter honey, home is where you are. It does not even need to have four walls”

Tak kuasa saya untuk menoleh & merinding saat mendengar itu … cinta yang sungguh luar biasa, nampak lebih indah dari semua film romantis Hollywood yang pernah saya tonton … Ingin banget moto mereka, tapi disini ga boleh moto orang sembarangan … Semoga kita semua bisa terus mencintai pasangan kita seperti mereka … aamiin …

Pernyataan “it doesn’t matter honey, home is where you are. It does not even need to have four walls”, juara banget.

Sumber: Status salah satu rekan Facebook, Pak Taufik Sutanto.

Ujian Fokus

sssss

Banyak yg memilih masuk ke sebuah “goa” untuk menyelesaikan masalahnya. Sebagian lagi memilih untuk bercerita. Tapi kebanyakan kaum pria lebih memilih yang pertama. Butuh waktu dan tempat sunyi untuk berpikir, katanya. Walaupun tidak benar-benar sunyi — karena sulit mencari “goa” disini — aku termasuk yang sudah mencoba. Tapi tidak terlalu signifikan hasilnya, ah. Mungkin karena jarak pandang yg teralalu sempit. Tembok, Meja, Lemari, Komputer, Jendela, terakhir yang kupandang gitar di ujung sana. Menyumbat inspirasi. Alasan!

Akhirnya aku pilih untuk keluar, memandang atap-atap langit. Mendung. Langkah demi langkah aku tambah, aku pandangi ulang daun-daun pohon di pekarangan gedung. Kacamataku sedikit basah karena gerimis, tapi tak kuhiraukan. Aku lanjut memandangi daun-daun yg semakin basah di pohon yang lain. Hidungku kembang-kempis, menolak untuk tidak menghirup aroma bekas hujan tadi sore. Sampai pada akhirnya membuat aku berpikir beberapa saat, “Sebenarnya apa yang Allah inginkan dari ujian hati dari seorang hamba-Nya?” sambil memandangi sandal jepitku yang hampir putus. Aku lanjutkan perjalanan, coba menebak-nebak jawabannya.

Adakah solusi yg lebih menenangkan jiwa, dari sebuah lantunan beberapa bait interaksi dengan Sang Rabb? Sang Pemegang kendali segala sesuatu, tak terkecuali hati-hati manusia yang mudah rapuh dan goyak.

Tak ada keraguan pada-Nya. Memang tak boleh. Percaya bahwa semut yang sempat kehilangan barisan pun Ia perhatikan, hingga dipertemukan kembali bersama rekan-rekan barisannya, rekan seperjuangannya. Apa lagi aku yang tak bosan mengiba petunjuk-Nya? — Kepedean kamu! —  Biar, memang harus percaya diri, lagi-lagi memang tidak boleh ada keraguan bahwa Allah Maha Mendengar dan Memberi Petunjuk.

Aku bersyukur sore tadi hujan, karena sudah baik mau memproduksi aroma yang khas. Oiya, Aku bukan kelompok Pluviophile[1]

Tiba-tiba teringat sudah 4 hari aku dzalim dengan kewajibanku. Langkah kupercepat agar segera kembali ke meja kerja. Lekas kubuat todo-list, merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja, menata buku-buku yang kurang tegak, membuat rencana beberapa hari kedepan, lalu menyalinnya ke dalam buku agenda yang beberapa hari ini hanya aku lihat dengan tatapan kosong, dan terakhir mengatur Pomodoro-timer[2].

Bismillah, mari coba kembali fokus. Fight!


[1] Pecinta hujan; seseorang yang menemukan kegembiraan dan ketenangan pikiran selama hujan.
[2] Sejenis timer berbentuk tomat yang digunakan untuk mempraktikkan salah satu teknik manajemen waktu: Pomodoro Technique

academicus:

“Sehebat-hebatnya pemerintah, ia hanya membawa ¼ perubahan. ¼ lagi ada di bisnis, ¼ lagiada di pergerakan masyarakat seperti ormas dan komunitas, dan ¼ lagi ada di
media.


Perubahan besar
hanya bisa terjadi dengan kolaborasi”


Ridwan Kamil, dalam
bukunya #TETOT: Aku,
Kamu dan Media Sosial
.

Sudahkah kita
menentukan di bagian mana kita akan ambil bagian dalam perubahan?