Ijazah, Bukan Alat Tukar Jasa Orang Tua

Bahkan ibu-bapak pun masih agak sulit percaya bisa menyekolahkan anak laki-lakinya sampai tuntas tingkat strata satu. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.

Ibu pun sempat kaget ketika pertama kali mengunjungi kampus untuk keperluan menjenguk anak laki-lakinya yang lagi kena gejala tipes di semester 6 (padahal cuma kangen), beliau bilang “Enggak nyangka ibu bisa nguliahin kamu disini. Kirain kampusnya cuma satu gedung aja kaya sekolahan-sekolahan. Ternyata luas banget ya, sampe kesasar tadi.

Sebagai pemerhati-garis-keras lika-liku perjuangan ibu-bapak, saya paham benar bahwa selembar ijazah strata satu dan bonus-bonus kebahagiaan abstrak yg bersemayam di balik kertas itu sama sekali enggak bisa menggantikan jasa-jasanya. Ibu-bapak memang melarang saya untuk merasa berhutang jasa dengan beliau, karena menurut beliau, itu adalah bagian dari tanggung jawab orang tua yang harus ditunaikan. Semoga Allah mengganjar ketulusan yang luar biasa dari ibu-bapak, dengan sebaik-baiknya ganjaran. Aamiin.

Buat saya ini bukan hanya tentang perjuangan beliau dari sisi materi saja, tapi…. ah saya pun gagal memilih kata untuk menyederhanakan perjuangan beliau yang sama sekali tidak sederhana.

Sampai sini saya jadi terngiang-ngiang perkataan ibu yang sederhana, yang hampir selalu beliau ungkapkan di setiap percakapan tentang kuliah dulu, kira-kira begini:

“Kalau niatnya baik, insyaAllah pasti ada jalan. Buktinya kamu bisa kuliah sampe sekarang, padahal dulu enggak ada persiapan ini itu. Tapi gimana caranya ya harus kuliah, insyaAllah ada jalan.”

photo255358586709977113
Ijazah yang sangat telat baru diambil, ditemani dengan oleh-oleh dari Bu Tisa yang abis keliling Eropa. Katanya coklat dari Belgia (?)

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya sedang tidak dalam suasana euforia karena telah menyelesaikan studi strata satu ini. Sama sekali tidak (Tapi semoga saya termasuk hamba-Nya yang senantiasa mengusahakan dan menyempurnakan syukur). Hanya tiba-tiba teringat dengan orang tua ketika memandangi foto ijazah sore tadi *halah*. Semacam membangkitkan memori obrolan-bertukar-harap yang sering saya agendakan bersama ibu-bapak saat kuliah dulu (eng… sampai sekarang masih sih, tapi beda topik ha ha). IMHO, mengkomunikasi ekspektasi adalah kebutuhan primer untuk meraih keseimbangan dan tujuan optimum bersama dalam sebuah kelompok, termasuk dalam keluarga.

Kembali lagi. Ukuran-ukuran untuk menunjukan bakti pun semakin jelas. Memang harus jelas, karena ada kapasitas ilmu dan pemahaman yang bertambah, insyaAllah. Ditambah lagi, sepertinya mau-enggak-mau sudah harus memasuki babak hidup yang penting: menjadi pribadi dewasa sungguhan yang sadar dengan tanggung jawab, insyaAllah.

Karena sudah jelas tidak akan mungkin dan mampu untuk membayar jasa ibu-bapak yang sudah terlampau buanyaak, maka sekali lagi: menunjukkan bakti adalah satu-satunya jalan yang perlu diperjuangkan, dengan berusaha menjadi pribadi yang entitasnya diperhitungkan dalam rangka (salah satunya) meninggikan derajat ibu-bapak di dunia dan di negeri akhirat. InsyaAllah!

Kesimpulan

Catatan Hati Seorang Developer (CHSD) ini memang kurang pas kalau diangkat menjadi kisah sinetron kejar tayang di televisi, tetapi paling tidak bisa dijadikan pengingat untuk diri saya pribadi dan teman-teman saya semua, bahwa: pembuktian bakti kepada orang tua, tidaklah sesederhana dengan membuktikan pencapaian-pencapaian bersifat materialis semata. Orang tua mempunyai hak dari kita (sebagai seorang anak) yang jauh lebih dari itu, yaitu memiliki seorang anak yang mampu meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.

Sungguh pekerjaan yang sama sekali tidak lucu untuk dijadikan ajang bermain-main hehe. Semoga Allah dan ibu-bapak kita meridhai, semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan arahan untuk setiap pilihan langkah, yang jika tanpa itu semua, tersesatnya seorang hamba adalah keniscayaan.

Depok, 27 September 2015

Advertisements

お母さん

Sering senyum-senyum sendiri ketika tau ibu masih mau repot-repot berinisiatif di dapur, nyiapin lauk buat makan anak laki-lakinya beberapa hari kedepan.

Khawatir ini-itu yang sering menguji sabar (hehe) untuk tetap mendengarkan sampai beliau tuntas berbicara. Biasanya saya tutup dengan “InsyaAllah gapapa, Bu”, karena sebagian besar yang dikhawatirkan adalah hal-hal yang saya anggap sepele, tapi mungkin tidak untuk ukuran seorang ibu.

Dan masih banyak lagi hal-hal ngangenin, yang membuat saya merasa berdosa saat terpaksa harus ngabarin enggak bisa pulang di waktu week-end.

Sejujurnya saya baru merasa “dimanja” di 3 tahun terakhir. Nasib anak pertama yang jaman dulu punya adek kecil-kecil hehe.

Tetep sehat dan strong ya, Buk 🙂

Rumah, 11.06 PM

Aplikasi Ilmu

Tak perlu bingung kalau benda kramat yang disebut “kepercayaan” dari seorang penulis atau orator ulung itu, tiba-tiba hilang dari komponen pujianmu.

Ketika tutur kata yang diucapkan beserta kharismanya, maupun kata-kata yang dirangkai dengan apik sebagai representasi pemikirannya yang luar biasa sudah tidak menarik lagi untuk disimak.

Dipersilahkan untuk kecewa, tapi dilarang berlama-lama karena yang dulu dipuji masih manusia.

Saat itu mungkin kamu akan berpikir dalam-dalam, lalu ingat dengan teman dekatmu dulu yang pernah bilang sambil cengengesan, “akhlak itu, aplikasi ilmu pengetahuan level tinggi lho hehe