00.01 AM

Tahun baruan level jombs programmer :p

Nemenin Bang Ardi (avatar engineer di balik Learn Quran App) lagi ngerjain tugas kuliah masternya. Sambil denger podcast-nya @academicus, lagi ngobrol sama Adriano Qalbi yang kacau tapi seru haha.

Mari selesaikan 4 program kerja (pribadi) di 2016. Bismillah. Yosh!

Welcome 2016! 

Advertisements

Terima aja dulu

Ada yang tiba-tiba dateng, cerita panjang lebar sambil marah campur nangis karena kesel pulpennya dipinjem orang tapi enggak dipulangin lagi. Atau ibumu tiba-tiba nelpon, ternyata buat ngobrol random aja, padahal kamu udah pengen banget tidur karena capek dan pusing dengan tugas-tugas kuliah hari ini. Atau temen sebelahmu ngomong panjang lebar, mencoba menjelaskan insight yang dia dapet dari perjalanannya ke kantor tadi pagi, lalu kamu bingung insight-nya di sebelah mana karena menurutmu biasa aja.

*

Seringkali kita–termasuk saya–gemar berkomentar anti-konstruktif terhadap apa yang orang lain lakukan, hanya berdasarkan apa yang sedang kita pahami pada saat ini dan tanpa memosisikan diri menjadi orang lain tersebut: “Yealah bro, biasa aja lah”; “Apaan si”; “Sok tua lu”; “Jir, ngapain sih ribet gitu, simple aja lah, bro”, “Ah, kebijakan pemerintah sekarang ga ada yang bener”

Jelas-jelas isi kepala kita berbeda, kita punya pengalaman yang berbeda, karakter yang berbeda, sedang menghadapi masalah-masalah hidup yang berbeda, dan segala-macem perbedaan yang lain.

Ternyata pulpen yang dipinjem lalu hilang itu kenang-kenangan dari orang tuanya dulu; Ibumu bisa jadi sedang benar-benar kesepian karena sendirian di rumah, dan padahal temen sebelahmu tadi ingin membagikan “energi positif” yang sedang ia rasakan agar kamu juga tertular.

Jadi, IMHO, sebenernya tinggal dengerin aja atau diem pura-pura dengerin. Terima aja dulu.

Saat ini mungkin apa yang disampaikan orang tersebut belum relevan dengan kondisi kita sekarang, tapi dengan mensedekahkan sedikit atensi dan waktu kita, kejadian itu akan terekam otak dengan baik dan bisa jadi itu akan berguna di kemudian hari. Sekaligus, orang tersebut tidak tersinggung dengan ke-“yaelah bro”-annya kita hehe.

Karena, berapa banyak dari kita yang telat sadar dengan maksud dari omelan-omelan ibu dulu yang cukup menyebalkan, tapi ternyata sangat berguna untuk kehidupan kita saat ini?

Berapa banyak dari kita yang baru “ngeh” maksud dari kalimat-kalimat temen kita–yang menurutmu sok tua–saat SMA dulu?

Juga berapa banyak dari kita yang baru tersentuh hatinya dengan ayat al-quran yang artinya kita baca dua minggu lalu?

H-1 2016