Tumblr diblokir: Memilih Reaksi

TL;DR alert

Awalnya saya pengen diem aja, tapi akhirnya tergelitik buat ikutan ngoceh juga tentang isu blokir Tumblr. Mungkin bisa sekalian ikutan sedikit menjawab beberapa pertanyaan dari mbak @kalengikansarden​ di postingan beliau yang terakhir saya lihat.

Tumblr situs porno?

Tumblr emang tidak melarang siapapun untuk membuat konten NSFW, tetapi Tumblr mengajak untuk tetap menghargai pilihan pengguna lainnya yang tidak menginginkan konten NSFW itu terlihat. (lebih lanjut lihat di Policy)

Oleh karena itu Tumblr punya: Privacy setting:Flag this blog as adult-oriented” di halaman “Settings“-nya; dan “Icon gembok yang bisa dibuka atau dikunci” di halaman “Search“, buat menyaring hasil pencarian kita.

Di tahun 2013, Tumblr ternyata pernah heboh dengan kasus konten NSFW-nya. Sampai-sampai, banyak orang yang mengasosiasikan Tumblr sebagai “another porn site” saat itu (atau sampai sekarang juga masih ya?), karena dari 200 ribu most-visited domain di Tumblr, 11.4% nya adalah akun NSFW. Itu adalah data tahun 2013, sekarang mungkin udah berbeda. Saya belum berhasil nemu data yang lebih aktual.

Padahal kalo di Indonesia kan kayaknya bagus-bagus aja isinya. Walaupun ada akun yang isinya reblog (siap-siap ditimpuk orang sekampung tumblr wkwk), tapi banyak juga akun-akun yang menginspirasi dari cerita, isi pikirannya, pendapat, karya-karya, dll.

Saya punya keyakinan, pasti di luar sana banyak yang merasa dapet kebaikan dari konten-konten di Tumblr.

IMHO #1: Kebijakan di tumblr sepertinya sudah sangat demokratis, walaupun saya lebih senang kalau Tumblr mau lebih ketat untuk tidak memperbolehkan penggunanya membuat konten NSFW.

HAH? Tumblr di blokir?!?!? 

Rencana pemblokiran situs Tumblr ini, menurut saya tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena beberapa alasan berikut:

  • Kita punya permasalahan yang lebih besar lainnya yang harus segera diselesaikan. 
  • Jika benar-benar sudah di blokir oleh pemerintah, sebenarnya kita tetap bisa mengakses Tumblr seperti biasa dengan cara yang mudah. Untuk pengguna Chrome, cukup install Chome Extension “DotVPN” atau aplikasi sejenisnya. Sederhananya, aplikasi ini berguna untuk membuat kita seolah-olah sedang mengakses sebuah situs dari negara lain. Ini lazim dilakukan, salah satunya untuk masalah privasi identitas. Lebih detilnya insyaAllah saya akan bahas di celotehan selanjutnya.
  • Artinya, tulisan di tumblr kita tidak hilang. Karena Tumblr masih tetap ada dan tetap bisa diakses. Yang diblokir hanya jalan menuju ke Tumblr-nya kalau pakai operator dari negara kita yang sangat kita (berusaha) cintai ini.
  • Jika kita ingin melakukan back-up data Tumblr, caranya bisa bermacam-macam. Tapi yang paling praktis (tinggal klik-klik aja) adalah dengan memindahkan isi Tumblr kita ke WordPress dengan memanfaatkan fitur “Import from Tumblr“-nya WordPress. Bisa dilihat di “WP Admin > Tools > Import > Tumblr“. Saya sudah mencobanya untuk badrselasakamis.tumblr.com ke badrselasakamis.wordpress.com

Opini

Saya tertarik dengan tulisannya Om Nukman Luthfi di tahun 2010 lalu, yang isinya kira-kira begini:

Sebelum era sosial media, 20% pencarian di internet berkaitan dengan pornografi. Dahulu masyarakat memiliki keterbatasan pilihan untuk mengkonsumsi konten yang bagus di internet. 

Tapi ketika era sosial media mulai, persentase angka pencarian yang berkaitan dengan pornografi di internet menurun dari 20% ke 10%, karena masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menghabiskan waktu di internet dengan konten yang relatif lebih baik.

Jadi, mengapa energi pemerintah tidak digunakan untuk memperkaya pilihan konten positif untuk mengalihkan perhatian masyarakat Indonesia terhadap konten negatif? 

*

Memblokir situs mirip seperti melarang penggunaan pisau. Walaupun bisa merugikan ketika digunakan untuk membunuh orang, tapi juga bisa membuat kebermanfaatan yang lebih banyak jika dipegang oleh orang yang “benar”.

IMHO #2: Untuk saat ini, alih-alih menuntut Tumblr untuk mengubah kebijakan tersebut atau panik berlebihan terhadap kebijakan pemerintah, menurut saya: yuk sama-sama lebih selektif “memilih reaksi” kita terhadap isu ini, fokus pada apa yang paling mungkin bisa dilakuin aja kali ya.

Bisa juga dengan sibuk mempertangguh “imun” buat ngadepin konten-konten minim atau bahkan jauh dari manfaat yang sebenernya ga cuma ada di Tumblr aja. Menurut saya ini cara paling efektif buat “blokir situs ga bener”, kesadaran internal.

Atau memperkaya konten positif di internet, seperti yang Om Nukman bilang.

Atau bisa juga belajar make aplikasi anti-blokir-situs biar ga terlalu panik kalo nanti ada blokir situs lagi hehe

Atau “mengedukasi” orang Kominfo tentang betapa asik dan bermanfaatnya Tumblr-an 😀

2.26 AM

Update: baru juga 5 detik dipost, scroll kebawah, ternyata dapet kabar kalo Tumblr ga jadi di blokir. Yeah!

Advertisements

Process or Result Oriented?

TL;DR alert

Pernahkah merasa bingung untuk menganut paham process-oriented atau result-oriented dalam menjalani hari?

Saya berusaha untuk tidak bias tentang paham process-oriented dan result-oriented. IMHO, keduanya bukanlah paham yang bisa dibandingkan, karena satu kesatuan.

Process-oriented tidak bisa dijadikan excuse ketika kita belum bisa mencapai hasil yang diharapkan atau yang sudah disepakati. Memang sebaiknya tidak terjebak dalam kondisi nyaman dengan pernyataan semacam “Guys, targetan kita bulan ini meleset. Jauh dari harapan. Tapi gapapa, setidaknya kita sudah mencoba. Kita sedang berproses”. Process-oriented bukanlah paham bagi yang tidak ingin bertanggung jawab terhadap hasil (yang sudah dijanjikan).

Result-oriented juga tidak bisa dijadikan excuse untuk memilih proses yang tidak sesuai dengan “norma” dalam memperjuangkan hasil yang diharapkan. Misalnya, pelajar yang mencontek saat ujian, untuk mengamankan IP-nya semester ini; Pemimpin yang mengeksploitasi berlebihan terhadap tenaga, jiwa dan pikiran bawahannya untuk mengejar targetan perusahaa; dlsb.

Lalu bagaimana? 

Keep (both of them) balance!

Untuk menciptakan balance, saya mengusulkan (ke diri saya sendiri hehe) untuk menggunakan pendekatan “self-value improvement”.

Apa itu pendekatan (yang saya sebut) “self-value improvement”?

image

Prinsipnya sederhana: segala sesuatu yang dikerjakan diarahkan untuk peningkatan kapasitas dan value diri.

Contoh #1 yang paling umum: Kita diberi amanah dari pemberi beasiswa untuk menyelesaikan studi dengan IPK cumlaude dibarengi dengan pemahaman keilmuan yang baik. Dibuktikan dengan kepiawaian mengaplikasikan ilmu di dunia pasca kampus.

Ekspektasi hasil dari pihak eksternal (pembeli beasiswa) ini mesti diselaraskan dengan target penambahan kapasitas dan value diri (self-value & self-capacities improvement). Misalnya sama dengan permintaan pemberi beasiswa: oke IPK saya akan cumlaude dan saya akan menguasai bidang ini.

Kita bisa saja mendapat IPK bagus dengan cara ilegal, tapi belum tentu setelahnya bisa memiliki pemahaman keilmuan yang baik. Wong, ndak melalui proses belajar yang benar.

Alih-alih kapasitas dan value kita bertambah, yang terjadi justru stagnan atau bisa sebaliknya malah berkurang karena tidak menggunakan proses yang baik.

Ini berarti proses yang kita gunakan kurang efektif, tidak mampu menghasilkan “value improvement” dalam kasus ini berupa pemahaman ilmu yang baik dan aplikatif sesuai yang diharapkan sebelumnya.

Contoh #2: Saya bisa menyelesaikan pekerjaan A dalam waktu satu minggu dengan cara X, cara yang biasa saya lakukan berulang-ulang selama dua bulan terakhir.

Dengan cara ini, pekerjaan saya dinilai bagus, sesuai yang diharapkan. Jika saya diberi pekerjaan yang serupa dengan A, saya tinggal melakukan hal yang sama dan mendapatkan hasil yang tetap bagus. Tapi tidak ada peningkatan dari sisi nilai dan kapasitas saya.

Maka yang sebaiknya saya lakukan: memperpanjang “current value” saya dengan cara mencari dan mencoba metode pengerjaan yang lebih efektif, sehingga bisa selesai dengan lebih cepat tanpa mengurangi kualitas.

Walaupun tidak selalu berjalan dengan mudah, tetapi jika hal ini berhasil (dan pastikan akan berhasil), maka akan memberikan nilai tambah pada diri saya sendiri dan perusahaan saya.

Kesimpulan

Dengan pendekatan “self-value improvement” ini, memungkinkan kita untuk membuat process-oriented dan result-oriented menjadi satu kesatuan yang saling menyeimbangkan.

Diharapkan tidak ada lagi aktivitas excuse mengatasnamakan process ketika hasil tidak sesuai yang diharapkan, kalau salah ya lekas perbaiki. Diharapkan juga tidak ada lagi aktivitas excuse mengatasnamakan result-oriented untuk menghalalkan segala; atau terjebak dengan cara-cara lama.

Pemegang kendali atas berkembang atau tidaknya kita adalah diri kita sendiri.

Akhir kata, saya menemukan judul yang pas untuk celotehan ini: “Self-Value Improvement” approach for balancing process-oriented and result-oriented perspective. Yeah! Kaya judul skripsi :))

note: Saya belum melakukan studi literatur apapun tentang ini, karena malas murni hasil dari olahan pengalaman yang ternyata cocok untuk diri saya. Setidaknya untuk saat ini. Jadi, tulisan ini sebenernya enggak terlalu ngilmiah, tapi masih bersahabat lah kalau mau direnungi *halah*