Surat Al-Qalam (Kalam)

Surat ke-20, dari serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. Surat lainnya bisa disimak di sini.


Surat Nun (Al-Qalam) memberi petunjuk kepada kita tentang prinsip-prinsip akhlak yang harus dimiliki oleh para aktivis dakwah. Surat ini menampilkan dua model akhlak.

Pertama, teladan para aktivis dakwah sebagaimana Rasulullah saw. mempunyai kepribadian dan budi pekerti yang luhur.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” – QS Al-Qalam: 4

Kedua, orang-orang yang berakhlak buruk. Mereka adalah yang sulit mengambil manfaat dari dakwah.

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.” – QS Al-Qalam: 10-14

Surat ini menampilkan kisah pemilik kebun yang bakhil sehingga dibenci oleh orang lain dan terhalang rizkinya. Seolah-olah kisah tersebut memberi pesan kepada kita untuk menjauhi sifat bakhil. Bakhil adalah seburuk-buruk akhlak yang dapat pula melekat pada para aktivis dakwah, sehingga menghalangi tersampaikannya misi dakwah kepada umat manusia.

Para aktivis dakwah harus mempelajari prinsip-prinsip Islam yang sederhana dan memperkuat ilmunya dengan banyak membaca. Untuk itulah, mengapa surat ini dinamai Al-Qalam dan mengapa diturunkan setelah surat Al-‘Alaq yang diawali dengan lafazh “bacalah!”.

Mungkinkah kita menyeru pada umat untuk ‘membaca’ dan agar mau bergabung, jika kita sendiri tidak komitmen untuk banyak membaca dan menulis?


Serial lainnya: 100 Muslim Paling Berpengaruh 1-76 | 77-100

Advertisements

Surat Al-Haqqah (Hari Kiamat)

Surat ke-19, dari serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. Surat lainnya bisa disimak di sini.


Di antara surat-surat dakwah menuju Allah, terdapat surat Al-Haqqah yang memberikan bekal dakwah yang dapat kita bawa kepada kerabat dan orang-orang di sekitar kita. 

Al-Haqqah adalah salah satu nama hari kiamat. Peringatan tentang hari tersebut merupakan sarana terpenting yang harus kita gunakan untuk meleburkan hati manusia dan membangunkan mereka dari kelengahan.

Kita dapat mengetahui kengerian saat manusia dihadapkan pada Dzat Yang Maha Perkasa. 

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada suatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” – QS Al-Haqqah: 18

Setelah itu, kita diajak untuk melihat nasib umat manusia pada saat catatan amal mereka dibagikan. 

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini).”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi" – QS Al-Haqqah: 19-22 

Tidakkah kita melihat betapa besar kegembiraan, dan tidakkah kita mendengar celotehan kegembiraan dan keberuntungan darinya? Mengapa kita tidak menjadi sepertinya? Mengapa kita tidak menyeru orang lain agar menjadi sepertinya? 

Sebagai perbandingan, surat ini menampilkan nasib orang-orang yang berbeda. 

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dan sebeluah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman), ‘Peganglah dia  lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjang tujuh puluh hasta’” – QS Al-Haqqah: 25-32 

Sungguh, ayat yang sangat mengerikan ini dapat menggugah manusia untuk kembali pada Tuhannya. 

Coba perhatikan, surat ini dimulai dengan menyebut penghuni surga sebelum penghuni nerak. Seolah-olah memberi pesan kepad apara aktivis dakwah,

“Serulah manusia untuk mencintai surga, sebelum menakut-nakuti mereka dengan neraka.” Sebab memberi motivasi lebih kuat pengaruhnya terhadap jiwa manusia daripada memberi ancaman.


Serial lainnya: 100 Muslim Paling Berpengaruh 1-76 | 77-100

Surat Al-Ma’arij (Tempat-tempat Naik)

Surat ke-18, dari serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. Surat lainnya bisa disimak di sini.


Surat Al-Qalam membahas akhlak para aktivis dakwah, sedangkah surat Al-Ma’arij membahas aspek lain, yaitu ibadah. Agar mereka menghimpun dua aspek tersebut secara seimbang dan tidak berlebihan di satu aspek hingga mengalahkan aspek yang lain.

Dalam surat ini terdapat ayat-ayat indah yang menjelaskan sifat orang yang shalat dan bertakwa.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya. Karena sesungguhnya adzab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (Al-Ma’arij: 19-35)

Coba perhatikan, sifat-sifat ini juga terdapat dalam surat Al-Mukminun. Seolah-olah menyampaikan makna: Wahai aktivis dakwah, di mana posisi Anda dari kaum mukminin? Di mana posisi Anda dari kajian dalam juz 28? Apakah iman dan ibadah Anda bertambah kuat, sebelum mengajak orang lain ke jalan Allah?

Akan tetapi jangan salah paham terhadap surat ini, bahwa Anda tidak perlu berdakwah kecuali setelah meraih kesempurnaan iman. Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah ra., mengingatkan dengan ungkapan yang indah, “Jangan sekali-kali seorang dari kamu berkata ‘Aku tidak akan berdakwah sebelum imanku sempurna.’ Sebab orang yang mengatakan begitu berada pada salah satu dari dua kemungkinan; mungkin suatu hari ia mengatakan imanku telah sempurna, maka saat itu ia telah sesat. Atau ia mati sebelum imannya sempurna…”

Lalu, bagaimana solusinya? Dengarkanlah firman Allah berikut,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” – QS Ali Imran: 110

Solusinya, berdakwahlah di jalan Allah, perbaiki akhlak, dan tingkatkan keimanan. Semua itu akan memperlancar dakwah dan mudah untuk membimbing manusia, selain juga dapat beribadah dengan baik dan memiliki akhlak mulia.

Demikianlah, kita dapat melihat bahwa empat surat pertama dari juz ini menyebutkan sifat-sifat para aktivis dakwah; mengenal kekuasaan Allah, akhlak mulia, ilmu dan makrifat, serta iman kepada hari akhir. Ditambah bekal keimanan yang bersumber pada ibadah dan akhlak, hal itu dapat digunakan untuk memberikan motivasi sebelum memberikan ancaman.

Setelah mukadimah yang merangkum sifat-sifat para aktivis dakwah, kita berpindah ke surat Nuh yang menampilkan teladan aktivis yang sukses dalam dakwah.


Serial lainnya: 100 Muslim Paling Berpengaruh 1-76 | 77-100