2016-2017

2016 adalah tahun belajar dan tahun latihan berakselerasi. Jika Allah menghendaki, kemungkinan 2017 adalah tahun ujiannya, yang diukur dengan lompatan-lompatan (besar).

Kemungkinan untuk jatuh selalu ada, tapi di sinilah pembuktian keberhasilan belajar: apakah kita sudah cukup tangguh untuk segera bangkit, dan mencoba untuk melompat kembali?

Sesungguhnya tiada daya upaya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah.

Mari bergerak!

Advertisements

28 Butir Pengingat tentang “Komitmen terhadap Al Quran”

Dari Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc:

1. Sebaik baiknya liqo adalah ketika hadir bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya.

2. Jangan sampai sekedar hadir liqo menjadi prestasi.

3. Kader dakwah bisa menjadi ruhul jadid bagi dakwah jika Al Quran akrab dengan mereka.

4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktifitas kita.

5. Jangan malas menghafal Quran karena usia.

6.Lihat Surah Azzumar 23 tentang manhaj interaksi dengan Al Quran yang benar.

7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang. القرآن مأدوبة اللّٰه "Al Quran adalah hidangan Allah “

8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya.

9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget.

10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan.

11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian ,hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya ( Alhadist ).

12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari.

13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga.

14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran ,maka kita tidak akan mendapatkannya.

15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan
memudahkannya.

16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi saw tingkatannya hanya hasan ,sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu.

17. Kita sering takjub dengan ciptaan-Nya, namun kita jarang takjub dengan perkataanNya.

18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik.

19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang. Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi alai rabbikuma tukadziban ” dalam surah ar-rahhman ,maka ayat yang lain di mana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis. Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang.

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia , dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.

21. Siapa yang sudah hafal juz 30 ,maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29 , dan seterusnya.

22. Jangan remehkan ketidakhadiran kita bersama ikhwah.

23. Mungkinkah rizqi kita berkurang ,karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firman-Nya ?

24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.

25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain.

26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain , karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu.

27 .Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat.

28. Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah ,maka ia akan merasakan lelah di akhirat .

Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.24/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


24) Perbaikan Menyeluruh

Dari rubu’ ketiga pada juz kedua mulai ada perintah dan larangan kepada umat untuk menggambarkan manhaj yang komprehensif.

1. Hukum Pidana

“Haiorang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh” – Al-Baqarah: 178

Setelah itu disusul dengan firman Allah,

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” – Al-Baqarah: 179

2. Hukum Waris

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf” – Al-Baqarah: 180

3. Ibadah

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” – Al-Baqarah: 183

4. Ketakwaan

Coba perhatikan, setiap hukum dan aturan yang ada dalam juz ini selalu menekankan aspek ketakwaan.

Dalam ayat qishash,

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” – Al-Baqarah: 179

Dalam ayat hukum waris,

“… jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa” – Al-Baqarah: 180

Dalam ayat shaum,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” – Al-Baqarah: 183

Dalam penutupan rangkaian hukum terdapat ayat,

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” – Al-Baqarah: 187

Manhaj ini harus diemban oleh orang-orang yang taat, mempunyai kemandirian, bertakwa, dan hanya mengharapkan keridhaan Allah. 

Tiga pokok yang merupakan bingkai penjaga manhaj ini disebutkan secara runut, saling berkaitan dan amat mengagumkan. Hal ini tidak mungkin serupa dengan cara manusia dalam memberikan penjelasan.

Saudar seiman, setiap kali menambah bacaan surat tersebut maka kita akan semakin siap dan terbuka untuk meresapi aspek-aspek manhaj lainnya. Dengan demikian semakin jelas komprehensifitas manhaj.

Al-Quran mulai dengan hukum pidana, kemudian disusul dengan hukum peribadatan. Sebagian orang bertanya mengenai korelasi antara keduanya. 

Perlu diingat bahwa setiap kali kita menemukan beberapa tema yang disebutkan secara berurutan tetapi berlainan topik, ini menunjukkan bahwa agama Islam mencakup semua tema. 

Peraturan peribadatan tidak terpisah dari hukum-hukum lainnya. Ini benar-benar menegaskan bahwa manhaj Islam komprehensif, meliputi segala aspek kehidupan.

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya:

Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.23/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


23) Islam dan Perbaikan yang Menyeluruh

Pada rubu’ ketiga , mulai mengalir rangkaian perintah yang mencakup segala aspek perbaikan di masyarakat, mulai dari firman Allah,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah 

beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi

dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; 

dan (memerdekakan) hamba sahaya, 

mendirikan shalat dan menunaikan zakat; 

dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, 

dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan”

Al-Baqarah: 177

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini mencakup keseluruhan Islam. Ia mencakup aqidah (iman kepada Allah, malaikat, nabi, dan kitab), ibadah (menegakkan shalat, menunaikan zakat), mua’malah (menepati janji), dan akhlak yang baik.

Mari perhatikan rangkai indah yang dihadirkan dalam surat Al-Baqarah ini.

  1. Perubahan arah kiblat (bukti kemandirian): “Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram” – Al-Baqarah: 144
  2. Kemandirian yang seimbang: “Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya” – Al-Baqarah: 158
  3. Arah bukanlah segala-galanya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan” – Al-Baqarah: 177

Setelah menanamkan prinsip ketaatan dan kemandirian kepada para sahabat di rubu’ pertama, maka Allah menjelaskan kepada mereka bahwa hakikat urusan bukan sekedar perpindahan arah kiblat, tetapi perbaikan yang menyeluruh.

Perintah menghadap ke Ka’bah bukan hanya ujian ketaatan dan kemandirian, tetapi pokok persoalannya adalah melakukan kebajikan dengan segala bentuknya.

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya:

Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.22/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


22) Kemandirian Yang Moderat

Rubu’ kedua pada juz kedua ini dimulai dengan ayat 158, dimana Allah berfirman,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya.” – Al-Baqarah: 158

Sebagian orang memahami ayat ini bahwa sa’i adalah sebuah pilihan (boleh dikerjakan atau ditinggalkan). Namun untuk memahami ayat ini, terlebih dahulu kita mesti mengetahui sebab turunnya.

Ketika mendengar perintah untuk mandiri, baik dalam istilah maupun arah kiblat, para sahabat mengetahui bahwa orang-orang musyrik sudah terbiasa melaksanakan sa’i antara shafa dan marwah, bahkan mereka meletakkan dua patung di bukit shafa dan marwah, yaitu Aasaf dan Nailah, dan mereka berlari-lari kecil (sa’i) di antara keduanya.

Ketika para sahabat merasa tidak nyaman melaksanakan sa’i antara shafa dan marwah, karena mereka menganggapnya tidak sejalan dengan perintah untuk mandiri, maka ayat ini turun untuk memberi penjelasan bahwa tidak setiap yang dikerjakan oleh orang kafir itu salah. Sebab asal-usul sa’i antara shafa dan marwah adalah perintah Allah dan mengikuti penghulu kita Nabi Ibrahim as.

Dengan demikian risalah (misi) menjadi lebih jelas, “Bahwa harus ada keseimbangan dalam kemandirian. Umat ini umat moderat, tidak semua yang dilakukan orang kafir itu tertolak asalkan ada dasarnya.”

Karena itu, pada rubu’ ini terdapat ayat penting untuk menggambarkan manhaj,

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” – Al-Baqarah: 143

Kita berafiliasi kepada umat yang istimewa.

Bayangkan, kita akan menjadi saksi atas manusia yang hidup semasa dengan kita. Di hari kiamat kita memiliki wewenang untuk menyatakan mana yang haq dan mana yang batil. Perhatikan besarnya tanggung jawab yang dibebankan di atas pundak kita pada hari kiamat kelak. 

Mari bersama-sama kita melanjutkan telaah pada surat Al-Baqarah, sehingga rambu-rambu tanggung jawab dan kesaksian kita atas manusia semakin terlihat jelas.

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya: