Pilihan

Saya hanya membayangkan, betapa nikmat orang yang memiliki hafalan Qur’an. Terlebih-lebih kalau banyak ya?

Ketika kebanyakan orang bisa memilih untuk:
menggerutu saat terjebak macet,
bosan dengan perjalanan yang minim pemandangan,
kesal dengan rekan yang datengnya ngaret,
menghela nafas bolak balik saat setrikaan tak kunjung habis,
atau bersempit dada saat harus desak-desakan dalam kereta, setiap hari;

pada kondisi yang sama, ia juga memiliki pilihan untuk bisa syahdu mengulang hafalan Qur’annya, mengingat-ingat maksud dari setiap ayat-Nya, menyiapkan pikirannya untuk tetap positif, dan menghadirkan hatinya dalam keadaan tentram.

Sambil mengisi waktu.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” – QS Ar-Ra’d: 28

Advertisements

Ibu

Ibu tidak pandai memberikan kata-kata motivasi canggih kepada saya. Ibu juga bukanlah sosok yang sering menginspirasi saya. Ibu juga belum pernah mengajarkan pola pikir yang hebat, yang bisa mengubah cara pandang saya seketika itu juga. Ibu tidak memiliki pengetahuan yang luas, yang bisa dibagikan kepada saya saat sebelum tidur. Ibu tetap sederhana, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Tetapi Ibu memiliki Do’a, yang dengannya saya tidak memerlukan lagi kata-kata motivasi, bongkahan inspirasi, pola-pikir yang hebat, pengetahuan yang luas dari beliau. Semua terangkum dalam doanya.

Ibu memiliki do’a yang selalu diberikan tanpa diminta, yang selalu tersedia saat dibutuhkan, yang kontinu dipanjatkan ke langit setiap waktu.

Do’a yang menjadi salah satu senjata kepercayaan diri seorang Wahyu untuk menjalani hari-hari. Hingga saat ini.

Penanaman Aqidah Pertama

Ibu yang pertama kali mengenalkan saya tentang Allah, Surga dan Neraka.

Setiap sebelum tidur dulu, sambil dipeluk, sambil saya memegang kancing baju Ibu, Ibu menjanjikan banyak hal bahwa saya bisa mendapatkan apapun saat di surga.

“Mainan Satria Baja hitam ada ga Bu?”

“Adaa”

“Kalo power ranger?”

“Ada doong”

“Mobil-mobilan remot juga ada?”

“Semuaa yang kamu minta ada. Asalkan kamu nurut sama Ibu, sama Bapak juga ya.”

“Manggut-manggut”

Lalu Ibu mengancam kalau saya nakal, ndak mau nurut sama Ibu dan Bapak, saya akan bertemu dengan banyak binatang menyeramkan dengan ukuran berkali-kali lipat lebih besar di Neraka.

“Disana ada kelabang api, ular api yang gede banget”

Suasana jadi mencekam ketika Ibu cerita tentang Neraka.

Ibu sambil bershalawat dan menyenandungkan puji-pujian bahasa jawa yang judulnya kalau ndak salah “Eling-Eling”, kurang lebih isinya tentang urgensi kita mengingat Allah dan mati. Awal-awal saya tidak paham artinya. Biasanya saya tertidur setelah Ibu tidak lama shalawatan.

Sebelum tidur, Ibu juga selalu membacakan surat-surat pendek dan ayat kursi sambil menjelaskan faedah-faedahnya apa saja. Bisa mengusir setan, katanya. Lalu saya semakin yakin bahwa ayat kursi adalah ayat pengusir setan setelah nonton film susana. Ketika ada adegan bapak-bapak membawa tasbih sambil membacakan ayat kursi, lalu tasbih itu dilempar ke setan susana, lalu setan itu menjadi abu. hehe.

Waktu kecil dulu, sebelum sekolah. Ibu selalu marah ketika saya tidak mau berangkat ngaji ke mushala kecil depan rumah. Saya ga boleh masuk rumah. Pintu dikunci dari dalam. Saya cuma bisa nangis di teras rumah. Sambil dengerin ibu menceramahi saya dari dalam jendela.

“Mau ngaji ga? Ga boleh masuk kalo gamau ngaji! Hayo mau ngaji nggaak!”

“Iya iboo. ampuun. huu huuu huu” Sambil nangis kejer. wkwk

Biasanya ndak lama, ibu keluar sambil bawa air putih. Karena Ibu paham saya sulit berhenti kalau sudah nangis, kecuali diminumin air putih.

“Berhenti ga nangisnyaa!”

“Ga bisa berenti ibuuu. huu huu huu” Masih sambil nangis.

“glek glek glek”, setelah minum, nangis pun reda. Alhamdulillah. Lalu saya berangkat ngaji karena takut diomein ibu lagi.

Ibu yang suaranya bagus sekali kalau baca Qur’an. Setiap ba’da maghrib, saya selalu dengar Ibu baca Qur’an. Sampai sekarang. Ibu lah yang memberikan pondasi kecintaan saya kepada Qur’an saat kecil dulu.

Pengaruh Ibu

Ibu juga penggemar karya-karya Rhoma Irama, Ikke Nurjannah, Evita Mala, Rita Sugiarto, Elvy Sukaesih, Siti Nur Haliza dan group qasidah Nasida Ria; yang membuat saya memiliki cukup banyak pengetahuan musik dangdut dan seluruh judul lagu qasidah dari Nasida Ria tanpa disengaja. wkwk. Btw, “Mataharinya Dunia” dari Nasida Ria adalah salah satu yang favorit #edisiPenting.

Ibu adalah dokter pribadi saya. Sampai sekarang, kalau saya sedang sakit meriang, Allah angkat penyakit saya melalui tangan ibu. Ibu tau mana saja area dari badan saya yang harus dipijit. Beberapa saat kemudian, alhamdulillah biasanya meriangnya hilang. Pernah ketika saya sedang gejala typus saat kuliah dulu, tiba-tiba sembuh saat ibu datang untuk pertama kalinya ke Bandung. Mungkin karena kangen aja.

Ibu juga sering bilang, walaupun saya tidak benar-benar paham saat kecil dulu. “Tetep sederhana dan biasa untuk hidup prihatin.  Jangan mengikuti gaya hidup orang kebanyakan. Kalau sudah biasa sederhana, nanti kalo hidupnya susah ga repot, karena udah biasa ga macem-macem. Kalau hidupnya enak juga tetap sederhana”, kata beliau begitu.

Ibu yang selalu mendukung penuh saya untuk urusan pendidikan. Pendidikan itu prioritas nomor satu bagi beliau. Keperluan sekolah semahal apapun harus dipenuhi secepatnya kalau itu memang dibutuhkan, ada atau tidak ada uang saat itu. Entah gimana caranya. Yang lainnya nomor kesekian. Ibu tidak ingin saya merasakan kesulitan sekolah, seperti Ibu dulu, yang tidak bisa membeli buku, membayar SPP, mengambil rapot dan ijazah SMA karena tidak punya uang.  Maka tidak berlebihan kalau saya bilang kebutuhan dasar manusia seharusnya tidak hanya “Sandang, Pangan, Papan”, tapi “Sandang, Pangan, Papan, Pendidikan”

Teladan Tangguh

Ibu adalah pekerja keras dari kecil. Ibu yang masih berumur belasan tahun, terbiasa menimba air dari sumur yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya dulu. Bolak-balik. Ibu bertugas mengambil air di keluarga besarnya. Sampai sekarang Ibu masih sering membantu Bapak untuk berjualan air galon. Sambil sekolah dulu, Ibu menyambi jadi pemotong tempe untuk bisa mendapatkan uang tambahan untuk jajan dan membeli keperluan lainnya.

Karena itu, Ibu mengajarkan saya untuk selalu bekerja sama dalam keluarga. Tidak boleh ada yang leha-leha, ketika ada salah satu dari kami sedang bekerja atau mengerjakan sesuatu. Tidak boleh ada yang lambat, harus mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu.

“Enggak perlu disuruh, harusnya udah tau apa yang harus dikerjain”, kalimat yang sering ibu bilang.

Gaya Mendidik Ibu

Ibu sering memberikan tanggung jawab dan peran-peran penting kepada si Wahyu kecil. Ibu sering meminta saya yang masih SD untuk berbelanja keperluan warung. Pergi ke toko menggunakan sepeda yang jaraknya cukup jauh. Pulang-pulang membawa 3 kardus berisi barang belanjaan. Satu di stang kanan sepeda, satu di stang kiri sepeda, dan satu lagi di tengah. Berbelanja ke toko yang ramai, menutut saya untuk berkomunikasi dan bergaul dengan orang-orang dewasa. Sebelum waktunya. Sedih ndak ya? Tapi saya merasa itu benefit, karena jadi terlatih untuk berkomunikasi lebih awal.

Sejak kecil, Ibu selalu menceritakan seluruh pengeluaran dan pemasukan keluarga. Dan seluruh masalah-masalah yang sedang dihadapi. Semuanya transparan. Saya (yang waktu itu masih kecil) sudah sering diajak mikir bersama. Kata ibu, agar saya paham kondisi keuangan keluarga. Efek dari itu, saya belum pernah untuk minta dibelikan mainan dan membeli barang-barang tidak perlu. Alhamdulillah ada om dan tante saya yang sering beliin mainan: Mobil remote control dan Beyblade 🙂

Beberapa bulan lalu, saat saya sedang mengisi sebuah workshop di Surabaya selama 5 jam, Ibu mengkhawatirkan saya, apakah urusan saya lancar atau tidak? Ibu menelpon saya beberapa kali, karena sudah hampir 5 jam, saya tidak ada kabar. Karena malam sebelumnya, pagi, dan beberapa menit sebelum acara saya masih merasa tidak percaya diri dan ragu dengan kemampuan saya. Saya ceritakan semua kepada Ibu. Lalu, Ibu menguatkan dan berjanji akan mendoakan terus menerus. Alhamdulillah, hasilnya sangat lancar dan sangat diluar ekspektasi saya.

Belakangan, ketika semakin dewasa saya mulai mengerti maksud omel-omelan dan instruksi-instruksi ibu dulu, yang dulu sering saya anggap menyebalkan.

Mengapa saya harus nurut, mengapa saya harus ngaji, mengapa saya tidak boleh keluar malam untuk sekedar main bola, mengapa saya harus capek-capek belanja barang yang banyak banget, mengapa saya dilarang baca komik ketimbang majalah Bobo, mengapa saya ga boleh beli ini-itu, mengapa saya harus sering lelah bantu-bantu ibu, mengapa saya harus sekolah yang serius, mengapa saya harus mencuci piring setelah makan, mengapa saya selalu diomelin ketika menunda-nunda shalat, mengapa saya ga boleh banyak nonton tv, mengapa saya ga boleh masuk kamar rumah orang lain, mengapa saya harus ngepel rumah setiap jam 5 sore.

Sekarang, aku paham Ibu 🙂

Do’a Ibu: Barang Wajib

Doa ibu memang barang wajib yang harus ada dalam aktivitas-aktivitas saya. Doa ibu memiliki peran sangat penting terhadap pencapaian-pencapaian hingga saat ini. Padahal, secara hitung-hitungan, capaian-capaian itu rasanya kurang pantas dan belum pantas saya dapatkan.

Maka, kalau ada yang bertanya orang yang paling penting dan berpengaruh dalam hidup saya saat ini dan sampai kapan pun, jawabannya adalah Ibu. Doanya adalah keajaiban.

Semoga Allah mampukan saya untuk selalu menunjukkan bakti kepada Ibu dan Bapak secara maksimal, dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada Ibu dan Bapak di rumah. Mengampuni kesalahan-kesalahannya, dan memberkahi aktivitas-aktivitasnya.

Aamiin.

Bagiku, tidak ada hari khusus untuk seorang Ibu. Karena setiap hari adalah harinya. Istimewakanlah Ibu, buat ia bangga di dunia dan akhirat.

Badr-B2, 01.54AM