menyapamentari:

duniakuintrovert:

belajarlagi:

senjasenjaberaksara:

birukusendu:

bebraveyou:

sebuah-cerita:

hujansamudra:

rrfebymp:

miadwis:

putrinabhan:

dialogdiberanda:

bulangerimis:

Ayo coba sini :)))

Kamu cinta dia~

”Kita ini apa?”

“Kita putus ya?”

Kamu mendadak hilang.

Tolong tetap tinggal.

“kamu tidak ada”

“Tolong pergi saja”

Ada namun meniadakan

Jangan kembali lagi!!

aku mulai menjauh.

Jangan pedulikan aku.

tetap disini, dihatiku.

DP rumah, mahal.

Advertisements

Sesekali, kita perlu menarik diri ke luar garis lapangan. Berhenti sejenak menjadi pemain.

Mengamati perlahan potensi teman satu tim; mencari celah kelemahan tim lawan; sambil mengatur nafas.

Sekeras apapun usaha dan ambisi untuk menang, tetap perlu sadar bahwa kita adalah makhluk yang sudah satu paket dengan kekurangan & keterbatasan. Karenanya istirahat sejenak, berefleksi, mengevaluasi diri-niat-tujuan, mengelola ekspektasi dan energi juga menjadi kebutuhan.

Tapi, senikmat-nikmatnya istirahat menjadi penonton, masih jauh lebih nikmat mandi keringat bersama rekan tim seperjuangan di dalam garis lapangan.

Jadi, jangan lama-lama duduk-duduknya hey.

#random #ngomongopoto

Assalamu’alaikum. . Salam kenal. Mnurut mas, bagaimana mnyikapi rasa takut berlebihan terhadap kematian? Apakah wajar memiliki rasa takut tersebut hingga mempengaruhi psikis kita?

Wa’alaykumussalam,

Menurut saya, bapak Prof. Dr. Komarudin Hidayat lebih memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan mbaknya. Monggo, bisa dipelajari di salah satu bukunya beliau yang berjudul “Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme”

Kalau jawaban awam dari saya begini. Mungkin perlu dibuat pemahaman dalam diri bahwa: 

1. Kematian itu pasti akan kita alami. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati..” [3:185]. Kita akan pulang kampung, dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal.

2. Kematian adalah istirahatnya orang-orang mukmin yang shalih. Istirahat dari berbagai macam persoalan & “beban” kehidupan; istirahat dari perjuangan melawan hawa nafsu yg seringkali kita kalah terhadapnya; dll. 

3. Bertemu dan melihat Allah secara langsung adalah puncak kenikmatan tertinggi di akhirat kelak. Untuk mencapai sana, kematian adalah tahapan yang wajib dan pasti di lalui.

Setelah paham, keputusan selanjutnya tergantung kita. Mudah-mudahan kita dimampukan Allah untuk menjadi bagian dari kelompok orang-orang shalih yang merindukan kematian. Aamiin.

Wallahua’lam.

image

note: gambar ayat di atas dibuat menggunakan aplikasi Complete Qur’an.