[NulisAja: 1/14] Mahalnya Inspirasi Tuk Berbuat Baik

WhatsApp Image 2018-03-18 at 22.49.05.jpeg

Dalam sebuah pertemuan, seorang teman bercerita bahwa ia baru saja merasa tersentuh hatinya ketika mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Randomly.

Tiba-tiba ia teringat betapa lalainya ia belakangan ini. Lesu beraktivitas, ibadah juga kendor. Karena kejadian sederhana itu, ia berniat untuk memperbaiki semuanya.

Mendengar cerita tersebut, beberapa dari kami ada yang ngeledek “widiih…”, “soleh banget lu bro”, ada yang biasa aja, ada yang ikut muhasabah juga hehe.

Kisah yang lain, di sebuah pertemuan, di cafe di daerah Jakarta. Kami sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba terdengar sirine ambulan. Kami diam. Lalu ada yang nyeletuk, “Itu barusan pengingat mati, bro”. Respon kami bermacam-macam, ada yang tertawa, ada yang istighfar, ada yang biasa saja.

Dua ilustrasi di atas membuat saya berpikir,

Gitu ya kalo Allah udah berkehendak.

Bendanya sama. Sama-sama suara sirine ambulan, tapi respon yang ditangkep bisa macem-macem. Yang beruntung karena Allah izinkan hidayah itu masuk ke dalam hati salah satu dari kami, si penerima hidayah jadi terinspirasi untuk muhasabah, walaupun simple: inget mati. Mungkin setelah itu, ia jadi lebih termotivasi untuk mempelajari agama lebih dalam, lalu ia berbuat baik lebih banyak, dan lebih ikhlas dalam beramal.

Yang mungkin kurang beruntung ya biasa aja. Kayak saya waktu itu. Memahami sebuah suara sirine ambulan ya hanya sebatas “ngiung–ngiung” yang lewat aja, lalu selesai.

Dari sumber yang sama, sama-sama suara sirine ambulan, tapi experience-nya beda-beda.

Betapa mahalnya sebuah hidayah. Kita ga bisa kontrol karena itu hak prerogratif Allah. Suka-suka Allah mau ngasih ke siapa.

WhatsApp Image 2018-03-18 at 23.02.27

Jadi inget hadits riwayat Imam Bukhari & Imam Muslim, yang bunyinya “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama”.

“Faqih” kira-kira artinya paham terhadap sesuatu.

Untuk menjadi seorang yang berilmu pastilah panjang perjalanannya. Dengan izin Allah pula, kita mesti terinspirasi dulu untuk punya keinginan belajar, mencari sumber ilmu.

Lalu ketika sampai di sumber ilmu, kita perlu dizinkan Allah untuk bisa duduk berlama-lama menyimak sumber ilmu dengan baik dan benar. Karena sering juga mungkin kita enggak kuat duduk lama-lama di majelis ilmu, duduk dikit semutan hehe. Atau fisiknya di sana, pikirannya di luar. Termasuk saya juga sering. Dan sebagainya.

Setelah itu, wawasan yang kita dapat, Allah izinkan wawasan itu berubah menjadi ilmu karena diamalkan, lalu bermanfaat. Karena betapa banyak informasi yang kita dapat dari buku, kajian Youtube, datang ke majelis langsung hanya berhenti sebatas wawasan, belum menjadi ilmu yang diamalkan.

Jadi untuk kita bisa berbuat baik (beramal shalih) butuh proses yang panjang sebenarnya, tidak langsung begitu saja. Dan membutuhkan izin Allah.

Oleh karena itu, case ini bisa dijadikan bahan introspeksi di diri kita masing-masing, termasuk juga saya. Apakah selama ini kita sudah cukup senang belajar, berada dalam majelis, untuk menuntut ilmu? Apakah sudah muncul amal-amal kebaikan dari ilmu yang kita dapat? Apakah kita cukup senang menjalankan kebaikan-kebaikan itu?

Jika rasanya masih berat untuk berbuat baik, mungkin memang Allah tidak menginginkan kebaikan itu ada dari kita. Allah tidak izinkan, sehingga kita sulit sekali terinspirasi untuk berbuat baik.

Mari beristighfar.

WhatsApp Image 2018-03-18 at 23.04.12

Kembali ke Allah. Minta hidayah sama Allah. Minta sama Allah untuk dikasih inspirasi untuk berbuat baik, untuk beribadah.

Di luar aktivitas-aktivitas yang sudah umum kita ketahui sebagai ibadah: shalat, tilawatil Qur’an, puasa, dll, Semoga Allah menghitung pekerjaan kita juga sebagai ibadah, makan kita sebagai ibadah, minum kita sebagai ibadah, senyum kita sebagai ibadah, meeting kita sebagai ibadah. Mari kita niatkan semua aktivitas kebaikan kita sebagai bentuk ikhtiar kita beribadah kepada Allah.

Karena kehidupan dunia ini hanya sementara, tempat kita mengais bekal yang mudah-mudahan cukup, mengusahakan portofolio-portofolio kebaikan, untuk dibawa pulang ke kampung akhirat.

Aamiin.


sumber foto dari sini.

NulisAja adalah challenge pribadi selama 14 hari untuk melemaskan otot-otot menulis yang udah lama enggak dipake. Sambil ritual merapihkan pikiran.

Tulisan dalam NulisAja dibuat dengan enggak pake banyak mikir, karena yang penting jadi dulu aja –khawatir jadi watjana– sambil diperbaiki dalam perjalanan. Oleh karena itu tidak cocok dijadikan rujukan atau referensi (kepedean hehe). Walaupun dibuat dengan yang-penting-jadi-dulu, saya masih lumayan berharap barangkali ada inspirasi dan insight yang bisa dibawa pulang oleh pembaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s