[NulisAja: 4/14] 5 Core Human Drives

WhatsApp Image 2018-03-21 at 21.47.55

Ada lima hal yang memengaruhi seseorang dalam berperilaku dan memengaruhinya pula dalam pengambilan keputusan.

Josh Kaufman menjelaskan sebuah kata kunci baru kepada saya malam ini, yaitu Core Human Drives. Empat diantaranya dikutip dari Paul Lawrence dan Nitin Nohria, keduanya seorang professor Harvard Business Review, juga penulis Driven: How Human Nature Shapes Our Choice.

Ini dia kelima Core Human Drives tersebut:

1. The Drive to Acquire

Keinginan seseorang untuk memperoleh sebuah benda baik objek fisik maupun non-fisik seperti kekuatan, kekuasaan, pengaruh.

Jika ada sebuah bisnis yang bertujuan memenuhi kebutuhan seseorang untuk menjadi lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih disegani. Oleh karena itu ada sebuah perusahaan konsultan politik,  produsen super car yang mewah dan super cepat, misalnya.

2. The Drive to Bond

Manusia adalah makhluk sosial. Di level tertentu, seseorang ingin untuk dihargai dan diperhatikan dalam sebuah hubungan.

Contoh bisnis yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan ini seperti biro jodoh, restoran yang cozy buat ngumpul bareng temen, keluarga atau pasangan. Sebuah bisnis yang membantu seseorang untuk lebih disukai atau lebih menarik.

3. The Drive to Learn

Bisnis yang dibuat untuk memenuhi keingin tahuan seseorang, keinginan seseorang untuk berkembang menjadi lebih valueable, karenanya ia membutuhkan ilmu.

Sebuah bisnis yang menjanjikan seseorang untuk lebih berkompetensi dan lebih pintar. Contohnya publisher buku, bimbingan belajar, tempat kursus, online course.

4. The Drive to Defend

Bagaimanapun seseorang perlu untuk merasa dirinya aman dari segala bentuk ancaman. Tidak hanya dirinya, termasuk orang yang menurutnya penting atau benda yang menurutnya berharga.

Sebuah bisnis yang menjanjikan rasa aman, membantu mengurangi masalah-masalah, mencegah hal-hal yang tidak dinginkan berusaha untuk memenuhi The Drive to Defend. Misalnya, alarm mobil, satpam, kursus pelatihan bela diri, asuransi, lega, dll.

5. The Drive to Feel

Seseorang senang mencari sesuatu yang membuat ia merasa senang, terhibur, tenang, atau apapun yang berhubungan emosinya. Oleh karena itu muncullah bisnis-bisnis game, konser, film, restoran, wahana permainan.

Josh menambahkan, bahwa semua bisnis yang sukses adalah yang menjual produk atau servisnya dari kombinasi uang, status, kekuatan, cinta, pengetahuan, keamanan, kenyamanan, dan kegembiraan.

Semakin baik sebuah bisnis mengartikulasikan produknya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, semakin menarik pula ia.

sumber foto dari sini.


NulisAja adalah challenge pribadi selama 14 hari untuk melemaskan otot-otot menulis yang udah lama enggak dipake. Sambil ritual merapihkan pikiran. Tulisan lainnya tentang NulisAja bisa dilihat di sini.

Advertisements

[NulisAja: 3/14] “Mo”, Sang Idola

Mohamed Salah, namanya bersinar di eropa sebagai pesepakbola yang sangat prestatif, dan religius.

“Mo” begitu ia biasa dipanggil, berhasil membumikan nilai-nilai Islam yang indah melalui pekerjaannya, sebagai seorang atlet sepak bola.

Hal yang sama juga mungkin bisa kita contoh. Bagaimana jika bekerja tidak hanya untuk mencari nafkah dan sarana aktualisasi diri saja, tapi juga bekerja untuk ibadah, memperkenalkan wajah Islam yang indah ke rekan kerja, bahkan dunia.

Seperti yang Mo Salah contohkan 🙂



NulisAja
 adalah challenge pribadi selama 14 hari untuk melemaskan otot-otot menulis yang udah lama enggak dipake. Sambil ritual merapihkan pikiran. Tulisan lainnya tentang NulisAja bisa dilihat di sini.

[NulisAja: 1/14] Mahalnya Inspirasi Tuk Berbuat Baik

WhatsApp Image 2018-03-18 at 22.49.05.jpeg

Dalam sebuah pertemuan, seorang teman bercerita bahwa ia baru saja merasa tersentuh hatinya ketika mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Randomly.

Tiba-tiba ia teringat betapa lalainya ia belakangan ini. Lesu beraktivitas, ibadah juga kendor. Karena kejadian sederhana itu, ia berniat untuk memperbaiki semuanya.

Mendengar cerita tersebut, beberapa dari kami ada yang ngeledek “widiih…”, “soleh banget lu bro”, ada yang biasa aja, ada yang ikut muhasabah juga hehe.

Kisah yang lain, di sebuah pertemuan, di cafe di daerah Jakarta. Kami sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba terdengar sirine ambulan. Kami diam. Lalu ada yang nyeletuk, “Itu barusan pengingat mati, bro”. Respon kami bermacam-macam, ada yang tertawa, ada yang istighfar, ada yang biasa saja.

Dua ilustrasi di atas membuat saya berpikir,

Gitu ya kalo Allah udah berkehendak.

Bendanya sama. Sama-sama suara sirine ambulan, tapi respon yang ditangkep bisa macem-macem. Yang beruntung karena Allah izinkan hidayah itu masuk ke dalam hati salah satu dari kami, si penerima hidayah jadi terinspirasi untuk muhasabah, walaupun simple: inget mati. Mungkin setelah itu, ia jadi lebih termotivasi untuk mempelajari agama lebih dalam, lalu ia berbuat baik lebih banyak, dan lebih ikhlas dalam beramal.

Yang mungkin kurang beruntung ya biasa aja. Kayak saya waktu itu. Memahami sebuah suara sirine ambulan ya hanya sebatas “ngiung–ngiung” yang lewat aja, lalu selesai.

Dari sumber yang sama, sama-sama suara sirine ambulan, tapi experience-nya beda-beda.

Betapa mahalnya sebuah hidayah. Kita ga bisa kontrol karena itu hak prerogratif Allah. Suka-suka Allah mau ngasih ke siapa.

WhatsApp Image 2018-03-18 at 23.02.27

Jadi inget hadits riwayat Imam Bukhari & Imam Muslim, yang bunyinya “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama”.

“Faqih” kira-kira artinya paham terhadap sesuatu.

Untuk menjadi seorang yang berilmu pastilah panjang perjalanannya. Dengan izin Allah pula, kita mesti terinspirasi dulu untuk punya keinginan belajar, mencari sumber ilmu.

Lalu ketika sampai di sumber ilmu, kita perlu dizinkan Allah untuk bisa duduk berlama-lama menyimak sumber ilmu dengan baik dan benar. Karena sering juga mungkin kita enggak kuat duduk lama-lama di majelis ilmu, duduk dikit semutan hehe. Atau fisiknya di sana, pikirannya di luar. Termasuk saya juga sering. Dan sebagainya.

Setelah itu, wawasan yang kita dapat, Allah izinkan wawasan itu berubah menjadi ilmu karena diamalkan, lalu bermanfaat. Karena betapa banyak informasi yang kita dapat dari buku, kajian Youtube, datang ke majelis langsung hanya berhenti sebatas wawasan, belum menjadi ilmu yang diamalkan.

Jadi untuk kita bisa berbuat baik (beramal shalih) butuh proses yang panjang sebenarnya, tidak langsung begitu saja. Dan membutuhkan izin Allah.

Oleh karena itu, case ini bisa dijadikan bahan introspeksi di diri kita masing-masing, termasuk juga saya. Apakah selama ini kita sudah cukup senang belajar, berada dalam majelis, untuk menuntut ilmu? Apakah sudah muncul amal-amal kebaikan dari ilmu yang kita dapat? Apakah kita cukup senang menjalankan kebaikan-kebaikan itu?

Jika rasanya masih berat untuk berbuat baik, mungkin memang Allah tidak menginginkan kebaikan itu ada dari kita. Allah tidak izinkan, sehingga kita sulit sekali terinspirasi untuk berbuat baik.

Mari beristighfar.

WhatsApp Image 2018-03-18 at 23.04.12

Kembali ke Allah. Minta hidayah sama Allah. Minta sama Allah untuk dikasih inspirasi untuk berbuat baik, untuk beribadah.

Di luar aktivitas-aktivitas yang sudah umum kita ketahui sebagai ibadah: shalat, tilawatil Qur’an, puasa, dll, Semoga Allah menghitung pekerjaan kita juga sebagai ibadah, makan kita sebagai ibadah, minum kita sebagai ibadah, senyum kita sebagai ibadah, meeting kita sebagai ibadah. Mari kita niatkan semua aktivitas kebaikan kita sebagai bentuk ikhtiar kita beribadah kepada Allah.

Karena kehidupan dunia ini hanya sementara, tempat kita mengais bekal yang mudah-mudahan cukup, mengusahakan portofolio-portofolio kebaikan, untuk dibawa pulang ke kampung akhirat.

Aamiin.


sumber foto dari sini.

NulisAja adalah challenge pribadi selama 14 hari untuk melemaskan otot-otot menulis yang udah lama enggak dipake. Sambil ritual merapihkan pikiran.

Tulisan dalam NulisAja dibuat dengan enggak pake banyak mikir, karena yang penting jadi dulu aja –khawatir jadi watjana– sambil diperbaiki dalam perjalanan. Oleh karena itu tidak cocok dijadikan rujukan atau referensi (kepedean hehe). Walaupun dibuat dengan yang-penting-jadi-dulu, saya masih lumayan berharap barangkali ada inspirasi dan insight yang bisa dibawa pulang oleh pembaca 🙂

Nulis Lagi

Sedang mengosongkan pikiran, membuang jauh-jauh semua wawasan terkait startup dan bisnis yang di dapat selama 2 tahun terakhir. Memosisikan diri sebagai anak kecil yang belum tau apa-apa (memang kenyataannya saya belum tau apa-apa), dan selalu curious terhadap sesuatu.

Saya sedang membaca “The Personal MBA” untuk memahami “Apa itu bisnis? Dan bagaimana menjalankannya?”

Semua ini muncul dari perjalanan membangun Yawme, sebuah app untuk membantu muslim dalam beribadah (dalam konteks yang lebih luas), simple-nya gitu. Kapan-kapan saya akan bahas lebih jauh lagi.

Dengan background seorang engineer, saya selama ini merasa terlalu fokus pada hal-hal teknis, melupakan esensi dari sebuah bisnis itu sendiri: memberikan nilai tambah untuk orang lain pada segemen tertentu, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik karena ada kebutuhan mereka yang terpenuhi.

Ngomong-ngomong, karena udah lama enggak nulis lagi — ditambah Tumblr di blokir di Indonesia. Saya jadi ingin bikin challenge nulis lagi.

InsyaAllah untuk pemanasan, saya akan buat tulisan dalam format diary, yang isinya pembelajaran, hikmah, atau insight yang didapat setiap hari.

Saya akan buat tanpa banyak mikir, yang penting jadi dulu aja, sambil pelan-pelan diperbaiki dalam perjalanan.

Kayak tulisan ini, dibuat enggak pake mikir hehe. Ditulis di teras Masjid Ukhuwah Islamiyah, sambil nungguin kania menyelesaikan agendanya.

Bismillah..

Yawme: Penyeru Kebaikan “Zaman Now”

tumblr_inline_oz6jx3719V1rq134c_500
Yawme Android: bit.ly/DownloadYawme

Sekitar empat bulan terakhir saya bersama beberapa rekan lainnya, diamanahkan untuk mengembangkan sebuah produk teknologi untuk pasar Muslim. Sebut saja Yawme namanya.

Yawme adalah pengejawantahan dari mimpi besar kami bersama, yang juga menjadi pilihan atas jalan hidup dari sekian banyak pilihan yang tersedia, yaitu seorang penyeru kebaikan (ya, hanya penyeru). Seorang yang berusaha semaksimal mungkin membumikan nilai-nilai kebaikan agar bisa dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia, tanpa terkecuali.

Yawme hadir dengan sebuah kepercayaan bahwa “menjadi lebih baik adalah hak setiap manusia”; Yawme bergerak dengan semangat ingin mengajak siapapun untuk #JadiLebihBaik dari hari ke hari.

Kami berkomitmen ingin menghilangkan semua batasan dan faktor penghalang yang membuat seseorang untuk bisa #JadiLebihBaik. Rasa bosan, jenuh, tidak bersemangat, tidak ada lingkungan yang mendukung, tidak ada teman, tidak tahu bagaimana caranya, dan lain-lain. Semuanya!

Jika ada seseorang yang mengetahui faktor-faktor khusus penyebab seseorang terhambat untuk #JadiLebihBaik, tolong beritahu kami ya. Kami ingin sekali temui dan berguru dengan langsung kepada beliau.

Si Bayi Yawme

Yawme saat ini masih berumur dua bulan lebih sekian hari. Jika hari ini kamu mengunduhnya di Playstore (bit.ly/DownloadYawme), lalu mencobanya, kamu mungkin akan melihat banyak kekurangan sana-sini.

Kamu mungkin akan bergumam, rasanya Yawme masih jauh untuk membantumu untuk #JadiLebihBaik, seperti  apa yang saya ceritakan di atas.

Sesekali mungkin kamu senang karena bisa menemukan teman-teman baru di dalam Yawme. Diingatkan untuk mengerjakan serangkai aktivitas kebaikan, dan bisa mengevaluasi aktivitas kebaikanmu di hari-hari sebelumnya.

Tapi, kamu mungkin juga akan merasa bosan setelah beberapa hari memakainya. Kamu mungkin akan protes dalam hati: kenapa ga bisa begini ya? kenapa ga bisa begitu ya? kenapa ga bikin fitur ini ya? wah kenapa error ya? Kalau ada fitur ini pasti gw akan make. Kalo bisa begini pasti gw semakin semangat.

Ya! Sebenarnya itulah yang kami harapkan: mendengar langsung dengan saksama masukan, kritik dan saran dari para pengguna, yang saat ini  sudah mencapai 3.600-an. Alhamduilillah.

Untuk memberi masukan, kritik dan saran, kamu bisa menghubungi saya secara langsung, meninggalkan komentar di tulisan ini,  mengirimkan email ke hello@meetyawme.com, bahkan juga bisa menemui tim Yawme ke kantor BADR, sambil menjalin silaturrahim 🙂

Saya seperti bisa melihat dengan jelas, suatu hari nanti Yawme tidak akan jauh dari lingkaran aktivitas harianmu. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi. Yawme akan aktif untuk selalu mengingatkan kamu untuk #JadiLebihBaik dan mengajakmu untuk selalu peduli dengan kebaikan-kebaikan kolektif.

Perjalanan masih panjang…

Yawme bukan saja milik BADR Interactive, bukan juga milik tim Yawme, apalagi milik saya pribadi. Yawme adalah milik siapapun yang memiliki visi dan semangat yang sama dengan visi Yawme itu sendiri: mengajak siapapun untuk #JadiLebihBaik.

Kami percaya, generasi yang lebih baik dan ideal, dibentuk oleh individu-individu yang ideal pula. Yang berkomitmen untuk #JadiLebihBaik dari hari ke hari; yang sudah menang dari masalah-masalah internal dirinya sendiri; juga yang memiliki kedekatan dengan Pencipta-Nya.

Usaha-usaha sekecil apapun yang membantu terwujudnya hal itu semua, semoga dinilai Allah sebagai pemberat timbangan amal kebaikan kita kelak. Aamiin.

Jadi, sudah siap untuk #JadiLebihBaik mulai hari ini?