Nulis Lagi

Sedang mengosongkan pikiran, membuang jauh-jauh semua wawasan terkait startup dan bisnis yang di dapat selama 2 tahun terakhir. Memosisikan diri sebagai anak kecil yang belum tau apa-apa (memang kenyataannya saya belum tau apa-apa), dan selalu curious terhadap sesuatu.

Saya sedang membaca “The Personal MBA” untuk memahami “Apa itu bisnis? Dan bagaimana menjalankannya?”

Semua ini muncul dari perjalanan membangun Yawme, sebuah app untuk membantu muslim dalam beribadah (dalam konteks yang lebih luas), simple-nya gitu. Kapan-kapan saya akan bahas lebih jauh lagi.

Dengan background seorang engineer, saya selama ini merasa terlalu fokus pada hal-hal teknis, melupakan esensi dari sebuah bisnis itu sendiri: memberikan nilai tambah untuk orang lain pada segemen tertentu, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik karena ada kebutuhan mereka yang terpenuhi.

Ngomong-ngomong, karena udah lama enggak nulis lagi — ditambah Tumblr di blokir di Indonesia. Saya jadi ingin bikin challenge nulis lagi.

InsyaAllah untuk pemanasan, saya akan buat tulisan dalam format diary, yang isinya pembelajaran, hikmah, atau insight yang didapat setiap hari.

Saya akan buat tanpa banyak mikir, yang penting jadi dulu aja, sambil pelan-pelan diperbaiki dalam perjalanan.

Kayak tulisan ini, dibuat enggak pake mikir hehe. Ditulis di teras Masjid Ukhuwah Islamiyah, sambil nungguin kania menyelesaikan agendanya.

Bismillah..

Advertisements

Takjub

bahagia

terharu 

sekaligus agak ngeri (?)

karena mulai ada gerakan-gerakan Kal yang terasa dari dalam perut bundanya. MasyaAllah. Keren ya.

Sehat-sehat terus ya Kal sayang :’)

24022018

Fokus 2018

Menyelesaikan Yawme Chapter 1 di Q2 2018.

Yawme menjadi aplikasi rujukan umat muslim di Indonesia, Malaysia dan Singapore untuk membantu mereka dalam ikhtiar menjadi muslim ideal. KPI: 5K Daily Active Users.

Kal lahir dengan kondisi sehat. Bundanya pun juga sehat.

5 Tips Menjadi Ibu Millennials Produktif ala Yawme

Ibu Millennials adalah kaum Ibu yang terlahir di antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Menurut Adweek, satu dari lima Ibu di dunia saat ini adalah Ibu Millennials. Sebagaimana generasi Millennials lainnya, Ibu Millennials lahir pada saat media modern sedang berkembang pesat. Itulah mengapa hidup mereka sangat lekat dengan keberadaan media dan teknologi. Ibu Millennials memiliki karakter cerdas, pembelajar, dan menaruh perhatian yang tinggi terhadap kesehatan dan pendidikan. Mereka mengurus rumah tangga dan membesarkan anak dengan pengetahuan yang mereka peroleh dari internet dan media digital. Apakah kamu termasuk Ibu Millennials?

Kali ini, Yawme ingin berbagi pada para Ibu Millennials, 5 tips menjaga produktifitas walau berstatus sebagai seorang Ibu. Yuk cek apa saja!

Baca selengkapnya di Blog Yawme 🙂

Dear, Kal

kaikania:

Assalamu’alaykum sayang, Bunda direkomendasikan Ayahmu dan sebuah app kehamilan yang Bunda install, untuk menulis jurnal selama kehamilan. Katanya, itu bisa membantu meredakan sindrom-sindrom kehamilan. Untuk membuatnya lebih mudah, karena Bunda tidak seterbuka itu menceritakan kehidupan, lebih tepatnya tidak sepandai itu dalam menulis jurnal harian, izinkan Bunda menjadikan jurnal-jurnal ini sebagai surat-surat untuk kamu baca kelak ya Nak. 🙂

Sekarang usiamu menginjak 10 minggu, Sayang. Bagaimana di sana, dalam perut Bunda? Bunda senang sekali waktu check up terakhir, tanggal 9 lalu, Bu Bidan bilang kamu sehat. Sebelumnya di perjalanan menuju klinik, Bunda sudah bersiap-siap dengan kabar yang paling tidak diharapkan, Bunda khawatir karena selama 2 bulan kehamilan Bunda nggak muntah-muntah Sayang. Kata Bu Bidan sambil nunjukin layar USG, “Nggak apa-apaa, sehat kok, itu keliatan tuuh detak jantungnya”. Bunda lihat kamu sudah berkembang signifikan dari sebulan lalu, bentukmu masyaAllah Nak… Waktu ambil obat, petugas kliniknya mengamini Bu Bidan, “Alhamdulillah Neng kalau nggak muntah-muntah, saya juga dulu begitu, padahal bayinya sehat, jarang-jarang loh Neng. Biasanya ada yang sampai nggak bisa makan, bersyukur Neng.” “Hehe iya Bu, alhamdulillah”, jawab Bunda. Terima kasih ya Sayang. Qadarullah Bunda ngandung kamu nggak repot sama sekali, malah Bunda nafsu makannya jadi bertambah. Kamu juga kooperatif dengan pekerjaan Bunda di kantor, terima kasih kerjasamanya ya, Shalih/ah..

Oya sayang, Ayah dan Bunda sudah siapkan nama untuk kamu, walau kami belum tau apakah kamu akan jadi calon mujahid penguat barisan dakwah agama ini atau calon mujahidah pemilik rahim generasi rabbani di masa depan. Ayah jadikan nama kamu sebagai nama grup keluarga kecil kita, Sayang. Doa Ayah untuk kamu yang dibisikkan ke perut Bunda, “Allah, berikan takdir yang baik pada anak kami. Sebagaimana selalu kami yakini, apa saja yang Engkau berikan pada kami, itu adalah takdir terbaik untuk kami.“ Manis sekali.. Bunda sayang sekali sama Ayah kamu, Nak. Orang-orang bilang beruntungnya Ayah bisa mendapatkan Bunda. Tapi ketahuilah Nak, justru Bunda yang merasa lebih beruntung bisa memiliki Ayahmu sebagai pendamping hidup Bunda.

Sayang, sehat terus ya Nak, Ayah sudah nggak sabar ingin ajak kamu main. Ayah mau ngajarin kamu ngoding katanya. Bunda juga pingin bimbing anak Bunda sendiri belajar Quran, Nak. Makanya semangatin Bunda untuk istiqomah murojaah dan ziyadahnya, bantu Bunda agar selalu kuat ya Sayang. 🙂

Alhamdulillah bini’matihi tatimmush shalihaat..

Depok, 21122017

Dear, Kal :’)

InsyaAllah, bareng Bunda, nanti kita buat karya hebat yang bermanfaat buat umat manusia, bareng-bareng 😀