Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.35/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


35) Al-Baqarah sebagai Isyarat Kepemimpinan

Setelah memaparkan surat Al-Baqarah yang komprehensif, mencakup hukum dan aturan Islam, maka dapat dipahami mengapa Nabi saw mengangkat seseorang yang hafal surat Al-Baqarah untuk menjadi pemimpin kaum.

Diharapkan dengan hafalannya, dia telah menguasai rambu-rambu manhaj yang komprehensif, merepresentasikan “jalan lurus” (shirat mustaqim) dalam surat Al-Fatihah.

Manhaj aqidah terdapat dalam ayat Kursi, manhaj ibadah terdapat dalam ayat-ayat tentang shalat, shaum dan haji, sedangkan manhaj mu’amalah (transaksi dengan sesama manusia) terdapat dalam ayat-ayat infaq, dokumentasi hutang piutang, pengharaman riba, dan aturan perang. Semua itu terbingkai dengan tiga pokok utama, yaitu ketaatan, kemandirian yang moderat dan ketakwaan. 

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya:

Advertisements

Basic skill seorang da’i adalah Caring People. Caring People yang paling sederhana adalah “tidak merepotkan” atau “tidak menjadi beban”. Itu basic-nya. Kalau sudah selesai (persoalan itu), baru pikirkan soal kontribusi

Bang Arief Munandar

Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.34/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


34) Sistem Perekonomian

Beberapa ayat penghujung surat Al-Baqarah menampilkan rambu-rambu manhaj yang lain, yaitu sistem pengelolaan harta dan perekonomian dalam Islam. Tema yang diketengahkan, “Islam adalah manhaj pengembangan, bukan manhaj riba”. Maka hadirlah ayat-ayat yang memberi peringatan keras tentang riba,

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa” – Al-Baqarah: 276

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” – Al-Baqarah: 278-279

Setelah itu, hadir ayat terpanjang dalam Al-Qur’an tentang hutang-piutang, untuk lebih memperjelas rambu-rambu manhaj dalam masalah tersebut dan memastikannya.

Ayat berikutnya hadir untuk menegaskan pentingnya kepastian (tatsabbut) dalam urusan mu’amalah (transaki dengan sesama manusia)

“Apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” – Al-Baqarah: 282

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati,” Allah berfirman: “Apakah kamu belum percaya” Ibrahim menjawab: “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya” – Al-Baqarah: 260

Dua ayat tersebut memberi pengajaran bahwa tatsabbut (mencari kepastian) merupakan manhaj muslim dalam segala aspek kehidupan.

Coba perhatikan, ayat-ayat tentang riba terletak di antara ayat-ayat infaq dan pengembangan kekayaan. Ini untuk menjelaskan bahwa Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali menyuguhkan alternatif yang lebih baik.

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya:

Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) [Bag.32-33/36]

Juz 2 – Surat ke-32 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


32) Bukti dan Argumen

Setelah ayat Kursi terdapat tiga kisah yang menampilkan contoh konkrit untuk mendukung ayat Kursi, yaitu kisah Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan”, orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” – Al-Baqarah: 258

33) Kisah ‘Uzair

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali…” – Al-Baqarah: 259

Kisah Nabi Ibrahim as. yang memohon kepada Allah,

“Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” – Al-Baqarah: 260

Kemudian Allah memerintahkannya mengambil beberapa ekor burung, memotong-motongnya, dan meletakkan masing-masing potongan di atas gunung, lalu memanggilnya. Tiba-tiba bulu, daging, dan darah kembali seperti sebelum dipotong-potong.

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” – Al-Baqarah: 260

Sungguh, kisah ini menegaskan kekuasaan Allah untuk menghidupkan dan mematikan.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” – Al-Baqarah: 255

Ayat ini hadir setelah ayat-ayat yang menjelaskan manhaj, untuk mengokohkan keimanan dan keyakinan muslim pada ALlah. 

Diharapkan ini menjadi penguat baginya untuk memikul berbagai tuntutan manhaj yang berat.

>> Indeks pembahasan surat Al-Baqarah <<


Serial lainnya: